Jumat, 18 September 2026

Dihantam Krisis Air, Produksi Nikel IMIP dan Hengjaya Terancam Anjlok 30-40 Persen

(Instalasi pengolahan nikel IMIP | Foto: Sukaselam/Wahyuana)

Jakarta, 18 September 2026
Dua raksasa industri pertambangan dan pengolahan nikel di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, dilaporkan sedang menghadapi krisis kekurangan air.

Kedua perusahaan tersebut adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan PT Hengjaya Mineralindo. Dikutip dari Bloomberg Technoz, krisis air yang dipicu oleh cuaca ekstrem El Nino yang saat ini berlangsung, telah berdampak serius pada operasional smelter.

Head of Media Relation PT IMIP Dedy Kurniawan mengatakan, sumber daya air merupakan salah satu sumber energi utama penyokong operasional smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL) di IMIP, untuk mendukung operasional pabrik untuk produksi kokas atau coke, serta untuk operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). 

“Mengenai faktor El Nino, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan
penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Nino memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy, seperti dikutip dari Bloomberg Technoz (2/9).
 

Menurut Dedy, ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, dampak El Nino ini telah melambatkan laju produksi di perusahaannya hingga mengakibatkan penurunan produksi sampai 30-40 persen. Kendati begitu, ungkap Dedy, kendala dari ekses gangguan iklim ini masih bisa dikontrol tanpa harus berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja di lingkungan IMIP. 

Sementara itu, dikutip juga dari Bloomberg Technoz; Nickel Industries Limited, perusahaan tambang asal Australia, pemilik saham utama perusahaan tambang PT Hengjaya Mineralindo dan pada proyek smelter HPAL Excelsior Nickel Cobalt (ENC), juga mengumumkan hal sama. 

Menurut pengumuman resmi Nickel Industries Limited, fenomena El Nino telah mengakibatkan pelambatan rencana peningkatan produksi pada proyek smelter HPAL Excelsior Nickel Cobalt (ENC) yang berlokasi di kompleks industri IMIP karena kelangkaan pasokan air bersih.

Akibatnya, rencana peningkatan produksi hingga 50% kapasitas terpasang sejak komisioning empat bulan lalu, terpaksa hanya dapat berjalan 30% dari total kapasitas terpasang hingga situasi normal.
 

Selain itu, menurut pengumuman dari Nickel Industries Limited, fenomena El Nino juga telah mengakibatkan penurunan curah hujan di area konsesi tambang PT Hengjaya Mineralindo –yang memasok bahan bijih nikel ke smelter HPAL Excelsior Nickel Cobalt (ENC) di dalam kompleks IMIP—dari rata-rata mencapai 222 mm per bulan menjadi kurang dari 4 mm sejak Agustus.

Rendahnya curah hujan inilah yang memangkas pasokan air untuk operasional tambang dan smelter secara drastis.

Kedua raksasa industri nikel yang menjalankan operasionalnya secara berdampingan di Bahodopi ini, diketahui mencukupi kebutuhan pasokan air bersih operasional mereka dengan menyedot langsung dari debit aliran Sungai Makarti di Desa Makarti Jaya, Bahodopi.

Penelusuran Sukaselam, untuk mencukupi kebutuhan air bersih di dalam kompleks industri, PT IMIP memiliki izin pengambilan air dari Sungai Makarti dengan kapasitas maksimal 1,5 meter kubik per detik. Jumlah air itu setara 400 galon air minum per detik, atau setara dengan 130 juta liter air per hari, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum lebih 1 juta orang per hari.

Menurut peneliti AEER (Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat), Syamila Azka, krisis air bersih di kawasan perindustrian tambang dan pengolahan nikel di Bahodopi, memang akan bisa sangat berdampak parah. Karena air merupakan salah satu kebutuhan utama untuk produksi mereka.

"Sebagian bahan baku di smelter mereka, dikirim dalam bentuk slurry yang disalurkan melalui pipa, itu membutuhkan air banyak," ujar Azka, yang aktif memantau industri nikel di Bahodopi.

Selain itu, menurut Azka, kebutuhan air di kompleks industri IMIP juga pasti sangat besar karena untuk melayani banyak smelter yang membutuhkan air sangat banyak untuk proses pemurnian nikel.

Penelusuran Sukaselam, kompleks industri IMIP juga mengoperasikan 20 instalasi PLTU captive untuk mencukupi kebutuhan listriknya, yang untuk pengoperasiannya juga membutuhkan air banyak.

Kebutuhan air di PLTU captive itu bahkan termasuk dalam komponen utama, untuk dipanaskan dengan bahan bakar batubara, dan hasil uapnya dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin generator. ***

Penulis: Wahyuana
Editor: Tim Redaksi

*Laporan ini merupakan bagian dari program liputan Pasopati Journalist Fellowship 2026 dari AURIGA Nusantara

Baca seri laporan ini:
1. Tragedi di Bawah Laut Morowali: Kepe-kepe Bertahan di Bahomohoni, Nemo Tak Ditemukan di Bahodopi
2. Di Balik Hilangnya Ikan Nemo: Jejak Konsesi dan Sedimentasi di Bahodopi
3. Diving di Morowali: dari Sombori hingga Bahomohoni


Tidak ada komentar:

Posting Komentar