Sabtu, 12 September 2026

Di Balik Hilangnya Ikan Nemo: Jejak Konsesi dan Sedimentasi di Bahodopi

(Sedimentasi di Pantai Kuerea, Bahodopi, Morowali | Foto: Sukaselam/Wahyuana)

Morowali, 12 September 2026
- Kawasan pesisir Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kini tak lagi ramah bagi biota laut.

Penyelaman terbaru dari tim Sukaselam mendapati kawanan ikan nemo (Amphiprioninae) yang ikonik dan ikan indikator kepe-kepe (Chaetodontidae) yang warna-warni, telah hilang dari laut Bahodopi.
(Baca laporan: Tragedi di Bawah Laut Morowali: Kepe-kepe Bertahan diBahomohoni, Nemo Tak Ditemukan di Bahodopi).

Padahal, sebelum ada ekspansi tambang nikel di wilayah berstatus kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dilakukan, Bahodopi adalah rumah ekosistem terumbu karang yang kaya.

Jejak Bawah Laut Bahodopi
Kondisi awal sebelum masuknya industrialisasi, keberadaan surga di bawah laut Bahodopi itu terekam jelas di dalam tesis pascasarjana dari Agustinus Sembiring di IPB University pada 2011.

Tesis berjudul "Distribusi Spasial Ikan Karang dan Hubungannya dengan Terumbu Karang di Pesisir Bahodopi, Teluk Tolo, Kabupaten Morowali" tersebut menjadi dokumentasi yang tersedia, yang menggambarkan kondisi bentang laut Bahodopi sebelum terdampak oleh aktivitas tambang nikel. Penelitian tersebut dapat digunakan sebagai rujukan awal.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada September 2007 dan November 2008 tersebut, Sembiring melakukan penyelaman pada 5 stasiun pengamatan di sepanjang pesisir Bahodopi, dengan masing-masing lokasi diambil 2 titik sampling di kedalaman 3-5 meter dan 5-10 meter. 

Kelima stasiun tersebut adalah Tanjung Lasoni, Bahomatefe, Siumbatu, Nambo, dan Keurea.

Hasil penelitian cukup mencengangkan, ditemukan sedikitnya ada 2.849 individu ikan karang yang mencakup 66 spesies dari 17 famili. 

Dari penelitian itu diketahui, kelompok ikan target Pomacentridae (998 individu; 19 spesies) mendominasi ekosistem, disusul Acanthuridae (485 individu; 8 spesies), Labridae (329 individu; 9 spesies), dan Serranidae (284 individu; 4 spesies).

Dalam dunia konservasi laut, kehadiran ikan kepe-kepe (butterflyfish) kerap dijadikan sebagai bio-indikator utama untuk mengukur tingkat kesehatan suatu ekosistem terumbu karang.

Dari penelitian Sembiring, spesies ikan kepe-kepe yang umum ditemukan di Indonesia, seperti Chaetodon baronessa hingga Heniochus varius, masih dengan gampang ditemui di seluruh titik pengamatan di Bahodopi, baik di area yang didominasi karang Acropora maupun non-Acropora.

Demikian juga kawanan ikan badut atau nemo bisa ditemukan di semua stasiun pengamatan, kecuali di Pantai Keurea.

Pada riset itu ditemui tiga spesies di Bahodopi, yakni nemo karang penghalang (
Amphiprion akindynos), nemo ekor kuning (Amphiprion clarkii), dan nemo biasa (Amphiprion ocellaris).

Menurut penelitian Sembiring, kondisi terumbu karang di sepanjang perairan Bahodopi pada saat itu dalam kategori baik dan sangat baik, berdasarkan kriteria kerusakan karang KemenLH.

Terumbu karang kategori sangat baik terutama ditemui di Siumbatu
  dengan tutupan karang mencapai 88,90 persen, diikuti Nambo (tutupan karang 86,90%), Lasoni (tutupan karang 82,57%), dan Bahomatefe (tutupan karang 81,15%). Terutama pada kedalaman 3-5 meter.

Sedang terumbu karang kategori buruk ditemukan di 2 lokasi yaitu Nambo pada kedalaman 5-10 meter (tutupan karang 22,22%) dan Keurea di kedalaman 3-5 meter (tutupan karang 23,40%).

Struktur terumbu karang pun sangat bervariasi. Terumbu karang di area rataan didominasi karang Acropora sarmentosa, Goniastrea aspera dan Fungia scabra. Sementara pada lereng didominasi karang Acropora palifera, Favites abdita, Fungia scabra, Porites cylindrica dan Pocillopora sp. Karang padat Porites sp yang paling umum karena ditemui di semua lokasi.

Dari hasil penelitian di atas terlihat bahwa ekosistem terumbu karang di perairan Bahodopi cukup kaya dan memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Melimpahnya ikan target di semua stasiun pengamatan juga menjadi penunjuk bahwa ekosistem terumbu karang di sini bisa diandalkan sebagai sumber penghidupan nelayan setempat. Para nelayan kecil tradisional.

Namun, kejayaan bawah laut Bahodopi itu tampaknya kini telah runtuh.

Dampak Sedimentasi
Laporan terbaru dari penyelaman tim Sukaselam pada Juni lalu, yang tidak lagi menemukan keberadaan ikan nemo dan kepe-kepe, menjadi alarm keras tentang keruntuhan ekosistem terumbu karang Bahodopi. Kemelimpahan ikan target yang tinggi, yang dulu menjadi sumber penghidupan utama masyarakat nelayan di Bahodopi dan sekitarnya, kini terancam sirna.

“Potensi itu hilang sejak kehadiran industri tambang nikel. Karena sedimentasi yang disebabkan oleh penambangan nikel di daratan telah menyebabkan kematian karang,” ujar Syamila Azka, Peneliti Biodiversitas AEER (Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat) ketika dimintai komentarnya.

Menurut Syamila, hasil pemantauan AEER di Bahodopi menemukan bahwa aktivitas tambang dan hilirisasi nikel di Bahodopi telah menyebabkan sedimentasi berat di area perairan pesisir.

“Proses pembukaan lahan untuk penambangan nikel dengan cara mengikis lapisan tanah atas. Pada saat hujan material tanah itu terbawa aliran air dan menyebabkan sedimentasi,” ujarnya.

Sedimen yang mengendap tersebut kemudian menimbuni dan mengubur hamparan terumbu karang, sementara kekeruhan air yang cokelat pekat mengurangi penetrasi cahaya matahari ke dalam kolom air. Kondisi ini fatal karena mengganggu fotosintesis alga simbion (zooxanthellae) yang berperan penting dalam menyokong kehidupan biota karang. 

Tanpa cahaya matahari dan ruang napas, koloni karang perlahan-lahan mati tercekik, meruntuhkan seluruh rantai makanan dan menyisakan laut cokelat, yang kini tak lagi menyediakan rumah bagi nemo dan kepe-kepe.

Sejumlah penelitian akademis dan hasil pemantauan dari lembaga swadaya masyarakat juga menemukan persoalan sedimentasi dan perubahan kualitas lingkungan akut di kawasan ini

Penelitian tesis dari Hasnia di program Sekolah Pascasarjana UGM dengan judul Kajian Kerusakan Lingkungan Akibat Penambangan Bijih Nikel di Kecamatan Bahodopi (2018) pun melaporkan hasil hal yang sama. 

Penelitian ini mengungkapkan bahwa pengupasan tanah permukaan (front tambang) dalam pertambangan di Bahodopi memicu erosi hebat saat hujan. Aliran air permukaan saat hujan membawa lumpur kaya zat besi dan nikel ke perairan sekitar, mengakibatkan penurunan drastis kualitas air laut serta sedimentasi parah di pesisir Bahodopi.

Sedang penelitian Dian Wana Lestari dan tim dari Fakultas Biologi, Universitas Hasanuddin yang dimuat di Jurnal Bioma berjudul Analisis Kadar Nikel dan Besi pada Sedimen Perairan Pesisir Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi (2024) mengungkapkan bahwa pesisir pantai Futufia telah mengalami penumpukan sedimen yang mengandung logam berat yaitu nikel (Ni) dan besi (Fe).

Unsur besi (Fe) oksida dari tanah laterit ini yang memberikan karakteristik warna cokelat-merah pada warna air laut di pesisir Bahodopi ketika bercampur lumpur tambang. 

Menurut penelitian ini, kandungan rata-rata kadar nikel 1150,80 ± 393,948 μg/g (mikrogram/gram) dan logam besi 22913,49 ± 5656,204 μg/g. Kadar nikel tersebut melampaui kadar standar baku mutu nikel terendah 35 μg/g tertinggi 300 μg/g, dan kadar besi juga telah melewati standar baku mutu.

Deforestasi di Hulu
Degradasi ekosistem terumbu karang di Bahodopi ini tak lepas dari pembabatan hutan di bukit-bukit laterit di wilayah hulu, yang terjadi secara masif sejak 13 tahun lalu.

Penggundulan itu untuk membuka jalan bagi pertambangan nikel dan infrastruktur pendukungnya. Hutan hijau yang berfungsi sebagai spons alami pengikat air dan penahan erosi, kini berubah gundul botak.

Pantauan Sukaselam di Bahodopi, hampir semua perbukitan di sepanjang pesisir Kabupaten Morowali --dari Kecamatan Sombori Kepulauan di selatan hingga Kecamatan Wita Pondo di utara-- kini mengalami botak-botak tanah-merah akibat penggundulan hutan untuk aktivitas pertambangan. Bukit-bukit botak tanah-merah ini sangat rawan mengalami longsor dan erosi.

Tanpa vegetasi penahan laju air, saat hujan, lapisan tanah laterit yang kaya logam berat pada botak-botak tanah gundul ini, akan langsung tersapu air tanpa filter menuju sungai-sungai kecil yang bermuara di pesisir Bahodopi. Menjadi pangkal bencana ekologis mematikan biota karang.

Penelusuran Sukaselam menggunakan data tutupan lahan dari MapBiomas Indonesia, menunjukkan adanya tren deforestasi yang terus mencemaskan di wilayah ini.

Sepanjang periode satu dekade terakhir ini saja, konversi kawasan hutan menjadi lahan terbuka pertambangan (open-pit mining) melonjak signifikan, dari 917 hektar pada 2014 menjadi 5.801 hektar pada 2024, atau bertambah 4.884 hektar sepanjang 10 tahun terakhir yang ekspansif. 

Riset KOMIU (Kompas Peduli Hutan), lembaga swadaya masyarakat berbasis di Palu yang aktif mengadvokasi hutan di Sulawesi Tengah, mengategorikan deforestasi di Bahodopi, sebagai ‘deforestasi yang direncanakan’ untuk kepentingan industri nikel dan Proyek Strategis Nasional.

“Deforestasi ini berjalan secara legal karena dimulai dengan adanya perubahan tata ruang wilayah (RT/RW) Sulawesi Tengah yang menetapkan hutan lindung di wilayah tersebut menjadi kawasan industri nikel,” ujar Givents Lasimpo, Direktur KOMIU, saat diwawancarai Sukaselam.

Padahal, menurut Givents, sebagian besar wilayah yang ditambang ini, termasuk ke dalam area dengan nilai konservasi tinggi. Karena menjadi rumah banyak biota endemik seperti anoa, kera hitam Sulawesi, dan babirusa Sulawesi. “Secara internasional juga telah diakui itu,” ujar Givents.

Konsesi Tambang
Menggunakan Mapbiomas Indonesia penulis mencoba menelusuri perusahaan apa saja yang menjadi pemegang konsesi pertambangan di Bahodopi.

Dengan membandingkan data konsesi 2000, 2014, dan 2024, terlihat geliat industri tambang di Bahodopi dalam satu dekade terakhir.  

Tabel 1. Data Konsesi Tambang di Kecamatan Bahodopi Tahun 2000

No

Nama Desa Lokasi Konsesi

Perusahaan pemilik konsesi

Keterangan

1

Keurea

PT Kencana Bumi Mineral

Routa KBA

 

 

PT Nusa Karya Mineral

Routa KBA

2

Bahomakmur

PT Nusa Karya Mineral

Routa KBA

 

 

PT Bintang Delapan Mineral

Routa KBA

 

 

PT Graha Mining Utama

Routa KBA

3

Lalampu

PT Ang And Fang Brother

-

 

Keterangan:
Luas hutan alami 129.773 hektar (94,4%)
Luas non hutan 7.002 hektar (5,1%)
Luas non-vegetasi 102 hektar (0,1%)
Luas tambang terbuka (belum signifikan)
Routa KBA = Routa Key Biodiversity Area

Sumber: MapBiomas Indonesia


Tabel 2. Data Konsesi Tambang di Kecamatan Bahodopi Tahun 2014

No

Nama Desa Lokasi Konsesi

Perusahaan pemilik konsesi

Keterangan

1

Keurea

PT Bintang Delapan Mineral

Routa KBA

 

 

PT Nusa Karya Mineral

Routa KBA

2

Bahomakmur

PT Bintang Delapan Mineral

Routa KBA

 

 

PT Graha Mining Utama

 

3

Lalampu

PT Ang And Fang Brother

-

 

 

PT Graha Mining Utama

 

 

 

PT Fadlan Mulia Jaya

 

 

 

PT Cetara Bangun Persada

 

4

Labota

-

-

5

Fatufia

-

-

6

Bahodopi

PT Bintang Delapan Mineral

Routa KBA

 

 

PT Sarana Maju Cemerlang

-

7

Siumbatu

PT Graha Mining Utama

 

 

 

PT Vale Indonesia Tbk

 

8

Le-Le

PT Vale Indonesia Tbk

 

 

Keterangan:
Luas hutan alami 127.919 hektar (94,4%)
Luas non hutan 6.639 hektar (5,1%)
Luas non-vegetasi 2.297 hektar (0,1%)
Luas tambang terbuka 917 hektar (39,9%)
Routa KBA = Routa Key Biodiversity Area

Sumber: MapBiomas Indonesia

 

Tabel 3. Data Konsesi Tambang di Kecamatan Bahodopi Tahun 2024

No

Nama Desa Lokasi Konsesi

Perusahaan pemilik konsesi

Keterangan

1

Keurea

PT Bintang Delapan Mineral

Routa KBA

2

Bahomakmur

PT Graha Mining Utama

Routa KBA

 

 

PT Sarana Maju Cemerlang

Routa KBA

 

 

PT Bintang Delapan Mineral

Routa KBA

3

Lalampu

PT Ang And Fang Brother

Routa KBA

 

 

PT Fadlan Mulia Jaya

Routa KBA

 

 

PT Cetara Bangun Persada

Routa KBA

 

 

PT Cetara Karya Persada

Routa KBA

4

Labota

-

-

5

Fatufia

PT Bintang Delapan Mineral

Routa KBA

6

Bahodopi

PT Bintang Delapan Mineral

Routa KBA

 

 

PT Kencana Bumi Mineral

Routa KBA

 

 

PT Sarana Maju Cemerlang

Routa KBA

7

Siumbatu 1

PT Vale Indonesia

 

 

 

PT Bumi Kelana Persada

 

 

 

PT Palewai Razek Pammase

 

8

Siumbatu 2

PT Oti Eya Abadi

 

 

 

PT Graha Mining Utama

 

 

 

PT Cahaya Ginda Ganda

 

 

 

PT Selaras Maju

 

9

Le-le

PT Bintang Delapan Mineral

 

10

Dampala

PT Oti Eya Abadi

 

11

Makarti Jaya

-

 

12

Padabahao

PT Industri Jaya Utama

 

 

 

PT Hengjaya Mineralindo

 

13

Bete-Bete

PT Hengjaya Mineralindo

 

 

Keterangan:
Luas hutan alami 122.610 hektar (89,2%)
Luas non hutan 5.344 hektar (3,9%)
Luas non-vegetasi 8.857 hektar (0,1%)
Luas tambang terbuka 5.801 hektar (39,9%)
Routa KBA = Routa Key Biodiversity Area

Sumber: MapBiomas Indonesia

Dari data di atas terlihat bagaimana Bahodopi pada masa sebelum pertambangan nikel hadir secara masif, pada tahun 2000 tercatat hanya 3 desa yang wilayahnya terdapat konsesi tambang dengan luasan yang masih kecil. 

Pada saat itu, terumbu karang di pesisir Bahodopi masih belum terkena dampak sedimentasi secara masif. “Saat itu sedimentasi juga ada, tapi hanya di pinggir pantai. Terumbu karang masih bisa dilihat dengan mata telanjang dari atas jungkung,” kenang Rahmat Naga, penyelam lokal dan penggiat Sombori Dive Conservation (SDC) ke Sukaselam.

Empat belas tahun kemudian, perubahan lahan tambang mulai terjadi besar-besaran, dan yang semula konsesi tambang hanya ada di 3 desa menjadi di 8 desa, dan di 2024 konsesi tambang hadir di semua desa di Kecamatan Bahodopi dengan luas yang sudah dibuka sekira 5.801 hektar.

Yang menarik, selain berdampak pada ekosistem terumbu karang di pesisir, banyak konsesi tambang di wilayah Bahodopi yang beririsan dengan kawasan
Routa Key Biodiversity Area. Yaitu kawasan yang secara global diakui mempunyai peran penting untuk menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati di wilayah ini, karena menyimpan banyak biota endemik khas Wallacea. 

KBA memang bukan status sebagai kawasan konservasi, tetapi dianggap mempunyai peranan konservasi.

Untuk mengetahui bagaimana perusahaan-perusahaan ini mengelola kebijakan lingkungan konsesinya, mengingat peran mereka penting untuk menjaga ekosistem Bahodopi, dan untuk konfirmasi laporan ini, penulis telah berusaha menghubungi Direktur Utama PT Bintang Delapan Mineral atau PT IMIP di kantornya di Jakarta, namun belum mendapatkan respon hingga laporan ini turun. Demikian juga melalui direktur komunikasi PT IMIP, Emilia Bassar, guna melakukan konfirmasi, juga belum mendapatkan jawaban melalui email dan whatsapp.

Sedang Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Morowali, Nukrah S.T., M.Si., juga sudah dihubungi melalui telepon dan pesan whatsapp untuk konfirmasi mengenai hal ini, namun hingga laporan ini diturunkan masih belum memberikan jawaban dan juga respon balasan. ***

Penulis: Wahyuana
Editor: Tim Redaksi

*Laporan ini merupakan bagian dari program liputan Pasopati Journalist Fellowship 2026 dari AURIGA Nusantara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar