| (Ekowisata selam hiu paus di TN Teluk Cendrawasih, Kwatisore | Foto: Sukaselam ) |
Saat itu, bayangan publik yang tertuju pada mandat lembaga negara ini, adalah untuk mengatur dan mengawasi industri perbankan, pasar modal, dana pensiun, asuransi konvensional, dan sektor keuangan lain.
Namun kini, di tengah peringatan 15 tahun berdirinya, OJK sedang mengembangkan kebijakan-kebijakan untuk memperkuat sektor jasa keuangan dan mendukung pembiayaan berkelanjutan.
Langkah ini diambil untuk memayungi inovasi-inovasi baru dalam pengembangan sektor keuangan hijau, salah satunya lewat perlindungan ekosistem bawah laut melalui instrumen asuransi terumbu karang.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa badan regulator keuangan nasional memiliki komitmen penuh terhadap program keuangan berkelanjutan.
“OJK terus memperkuat komitmennya pada program keuangan berkelanjutan dan implementasi program ekonomi hijau, sekaligus untuk memperkuat posisi Indonesia di dalam arsitektur keuangan berkelanjutan global,” ujar Friderica, seperti dikutip dari siaran pers OJK, 30 Juni 2026.
Transformasi kebijakan hijau ini juga hadir sebagai respons terhadap fenomena perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan pemanasan global yang kini telah menjadi realitas baru.
Krisis iklim global tersebut terbukti tidak lagi sekadar menjadi ancaman bagi lingkungan sekitar saja, melainkan telah menjelma menjadi risiko sistemik yang berpotensi mengancam stabilitas ekonomi masyarakat pesisir, serta bisa merusak ekologi planet bumi secara permanen.
Dalam menghadapi tantangan baru itu, OJK dituntut untuk semakin inovatif dalam melahirkan kerangka kebijakan yang mendukung sustainable finance (pembiayaan berkelanjutan), termasuk di dalamnya dukungan pada blue finance (pembiayaan ekonomi biru) di sektor kelautan.
Komitmen OJK ini dituangkan dalam grand design tata kelola keuangan nasional, serta di dalam Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perasuransian Indonesia 2023–2027 untuk sektor asuransi.
Di dalam dokumen strategis itu juga telah dicantumkan asuransi terumbu karang dan asuransi panel tenaga surya sebagai contoh produk yang berpotensi mendukung keuangan berkelanjutan.
Kebijakan ini membuka ruang bagi industri asuransi untuk turut mengembangkan perlindungan terhadap risiko yang berkaitan dengan perubahan iklim dan aset alam.
Mengenal Asuransi Terumbu Karang
Berbeda dengan asuransi konvensional yang kita kenal, asuransi terumbu karang yang didorong OJK menggunakan pendekatan asuransi parametrik (indeks-based insurance) untuk aplikasinya.
Model asuransi konvensional yang berbasis pada pembuktian nilai kerugian fisik aset, dinilai kurang efektif untuk diterapkan pada ekosistem alam terbuka seperti pada wilayah lautan.
Contohnya jika menggunakan model asuransi konvensional, ketika terjadi peristiwa bencana kerusakan terumbu karang pada sebuah wilayah atau pada sebuah situs selam terasuransi; penilai kerugian harus menyelam lebih dulu ke bawah laut, untuk mengukur luas kerusakan paskabencana, dan menghitung estimasi kerugian finansialnya secara manual. Proses birokrasi seperti ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, sebuah penundaan yang justru berakibat fatal bagi kelangsungan ekosistem terumbu karang yang sedang mengalami kerusakan pada saat itu.
Untuk itu, model asuransi parametrik diambil sebagai solusinya. Di dalam asuransi parametrik, proses pembuktian nilai kerugian aset tidak didasarkan pada bukti fisik, melainkan pada data science yaitu ambang batas parameter iklim dan data meteorologi yang disepakati sejak awal.
Contohnya, polis asuransi dirancang untuk aktif apabila suhu permukaan air laut pada wilayah terumbu karang terasuransi melewati ambang batas kelayakan hidup karang dalam durasi waktu tertentu (berisiko terjadi pemutihan karang/coral bleaching), atau terjadi kecepatan angin badai topan kategori tertentu yang melewati area terumbu karang terasuransi tersebut.
Untuk memantau parameter ini secara akurat, industri asuransi tidak perlu mengirim penyelam untuk menilai, melainkan dengan memanfaatkan platform terverifikasi seperti satelit pemantau National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melalui program Coral Reef Watch.
Ketika satelit NOAA merekam data bahwa suhu batas parameter pemicu (trigger threshold) telah terlampaui, maka klaim asuransi dapat langsung diproses secara otomatis untuk dibayarkan kepada pemegang polis.
Mekanisme klaim berbasis parameter data science pada model asuransi parametrik seperti ini, yang direkomendasikan oleh OJK untuk diterapkan pada model asuransi terumbu karang di Indonesia, sehingga diharapkan klaim kerusakan cepat dapat dicairkan dan disalurkan, untuk upaya penanganan darurat bencana dan program rehabilitasi terumbu karang dan situs selam.
Keberlanjutan Ekowisata Zona Arlindo
Mekanisme pencairan dana cepat dalam model asuransi parametrik untuk keberlanjutan dan perlindungan ekosistem terumbu karang ini, menjadi harapan yang dinanti untuk menjaga kelestarian ekosistem kawasan unggulan pariwisata selam Indonesia yaitu Zona Arlindo.
Zona Arlindo adalah wilayah perairan Indonesia yang dilewati Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yaitu arus global yang bergerak dari Samudera Pasifik barat ke Samudera Hindia. Wilayah ini merupakan pusat ekosistem terumbu karang paling subur di dunia, dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi, serta destinasi wisata selam yang cukup populer bagi wisatawan dunia.
Di dalam kawasan yang membentang dari Bali hingga Raja Ampat dan dari perairan Filipina selatan hingga perairan Pulau Rote ini, ada banyak destinasi wisata selam premium yang menjadi sasaran ekowisata terumbu karang sepanjang tahun. Seperti Bali, Komodo, Alor, Banda Neira, Ambon, Halmahera, Wakatobi, Takabonerate, Ternate, Morotai, Bunaken, Derawan, Raja Ampat, dan ribuan pulau-pulau kecil serta atol yang menjadi destinasi trip kapal pesiar selam.
Namun, berbagai fenomena alam seperti pemanasan global dan climate change, kini telah menambah ancaman nyata terhadap kualitas terumbu karang di wilayah ini dari tahun ke tahun, selain berbagai ancaman lokal seperti penambangan karang, sedimentasi, dan bom ikan.
Kerusakan terumbu karang pada wilayah ini berpotensi memicu kerugian ekonomi yang luar biasa bagi industri pariwisata bahari khususnya wisata selam dan perikanan tangkap nasional, jika tidak dikelola secara prudent melalui penyediaan jaringan pendanaan yang terkelola tepat.
Oleh karena itu, percepatan perlindungan melalui penyediaan jaring pengaman finansial model asuransi parametrik, menjadi hal yang menawarkan solusi agar aset ekowisata ini tidak punah.
![]() |
| (Penggiat wisata bersama delegasi UNDP di Gili Meno | Foto: UNDP) |
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama dengan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia dan perusahaan reasuransi Swiss Re, pada Mei 2026, telah menginisiasi sebuah proyek studi kelayakan asuransi terumbu karang pertama di Indonesia.
Melalui kemitraan ini, telah diluncurkan panduan praktis bertajuk Practical Toolkit on Coral Reef Insurance, yang berisi acuan langkah demi langkah membuat produk asuransi terumbu karang.
Wilayah yang dipilih sebagai pelopor implementasi ini adalah Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) Gili Matra yang terletak di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Namun hingga kini, statusnya masih sebagai lokasi pilot project, belum pelaksanaan penuh.
Selama masih dalam status pilot project, premi asuransi masih ditanggung oleh lembaga donor yaitu saat ini UK Blue Planet Fund, belum ditanggung oleh pemangku kepentingan setempat.
Asuransi ini mencakup terumbu karang pada tiga pulau populer bagi wisatawan selam global yaitu Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan. Lokasinya juga terletak di dalam jantung Zona Arlindo, sehingga menjadi representasi ideal bagi ekosistem Zona Arlindo secara keseluruhan.
Kehadiran uji coba instrumen finansial asuransi terumbu karang di Gili Matra ini, ditujukan untuk melindungi ekosistem bawah laut seluas ribuan hektar yang menjadi tumpuan hidup para pemandu selam, pelaku usaha penginapan, nelayan tradisional, dan operator kapal wisata.
Mekanisme asuransi terumbu karang di Gili Matra ini bertumpu pada penilaian satu parameter data science sebagai pemicu (trigger) pencairan polis asuransi terumbu karang, yaitu parameter suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature), yang dipantau setiap hari melalui satelit NOAA Coral Watch, guna mendeteksi potensi coral bleaching akibat gelombang panas laut.
Menurut data sejumlah riset perairan Gili Matra dan sekitar, memiliki suhu rata-rata harian 28-30 Celcius. Dalam skema asuransi terumbu karang di Gili Matra yang dikembangkan oleh KKP dan UNDP, penentuan ambang batas (trigger threshold) saat terjadinya bencana coral bleaching pada terumbu karang didasarkan pada suhu rata-rata selama sebulan.
Yaitu jika suhu rata-rata permukaan air laut di sekitar Gili Matra melonjak ke 31 Celcius selama berminggu-minggu, maka perusahaan penanggung jawab asuransi akan segera mengeluarkan pembayaran polis sebesar 30 persen untuk 4 minggu pertama kenaikan suhu, dan 100 persen setelah 8 minggu.
Kecepatan pembayaran klaim ini menjadi kunci utama keunggulan asuransi model parametrik. Karena dana yang disalurkan ke pemegang polis, dapat segera digunakan untuk membiayai operasi penyelamatan lingkungan dalam masa tanggap darurat maupun pada tahap pemulihan.
Aksi tanggap darurat tersebut dapat meliputi pembersihan puing-puing karang patah agar tidak menimpa koloni karang hidup yang lain, hingga percepatan pembibitan kembali menggunakan metode transplantasi karang modern. Sehingga daya tarik wisata selam Gili Matra tetap terjaga.
![]() |
| (Zona Arlindo destinasi selam prioritas Indonesia | Foto: Sukaselam) |
Keberhasilan pilot project model asuransi parametrik untuk perlindungan terumbu karang di kawasan Gili Matra ini, juga menjadi harapan untuk perlindungan kawasan lain di Zona Arlindo.
Meski tidak terlibat dalam penanganan langsung di lapangan, OJK memegang peranan yang penting dalam merumuskan regulasi tata kelola asuransi terumbu karang di Indonesia, yang tentu akan berdampak pada kelestarian terumbu karang dan ekowisata selam Zona Arlindo.
OJK berperan sebagai otoritas yang memastikan transparansi produk asuransinya, serta turut mendorong konsorsium perusahaan asuransi dan reasuransi domestik untuk meningkatkan kapasitas permodalan mereka dalam ikut serta menanggung risiko bencana ekologis global.
Mengingat sebagian besar penerima manfaat langsung adalah komunitas lokal pesisir berskala ekonomi kecil, pembiayaan premi asuransi terumbu karang di Gili Matra dirancang nantinya setelah fase uji coba, akan dilaksanakan melalui skema pendanaan campuran (blended finance).
Melalui model ini, pembayaran premi asuransi terumbu karang tidak lagi dari dana bantuan, tetapi berasal dari gotong royong antara dana iklim internasional, kontribusi dana tanggung jawab sosial (CSR) korporasi, hingga optimalisasi dana insentif konservasi (green fee) pariwisata yang disisihkan secara proporsional dari kontribusi wisatawan mancanegara yang berkunjung.
Perjalanan OJK menuju usianya yang ke-15 tahun ini, membuka ruang untuk menilai bagaimana sektor jasa keuangan dapat berkontribusi pada ketahanan ekonomi sekaligus juga mendukung pengelolaan risiko lingkungan. Ketahanan ekonomi Indonesia terbukti tidak lagi hanya dihitung dari kokohnya benteng modal pada perbankan konvensional, melainkan juga dari sejauh mana instrumen keuangan mampu melindungi batas-batas toleransi ekologis dari planet bumi. ***
Penulis: Wahyuana
Editor: Tim Penulis








