Minggu, 20 September 2026

Melirik Budget Dive Transport: Peluang Baru ASDP Mengembangkan Non-Farebox Revenue di Zona Arlindo

(KMP Terubuk layanan ASDP menuju Misool | Foto: repro Tribunpapuabarat)

Jakarta, 20 September 2026
– Tren wisata selam di Indonesia terus melonjak dari tahun ke tahun. Memang belum ada data resmi berskala nasional yang merangkum total kumulatif wisatawan selam per tahun. Namun, laporan dari setiap destinasi selam unggulan menegaskan kecenderungan peningkatan tersebut.

Data dari Badan Pusat Statistik misalnya, mengungkap jumlah wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat mencapai 19.839 orang pada 2023, dan naik menjadi 33.277 wisatawan pada 2024. Mayoritas dari jumlah itu merupakan turis selam yang menggunakan layanan transportasi laut.

Sementara itu, data dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kabupaten Manggarai Barat mencatat secara resmi ada lebih dari 23.601 wisatawan yang melakukan penyelaman (scuba diving, freediving, snorkeling) di Taman Nasional Komodo dan Labuan Bajo pada 2023.

Angka kunjungan itu melonjak hingga 27.450 pada 2024, di mana sebagian besar dari wisatawan tersebut menggunakan transportasi laut untuk mencapai lokasi penyelaman.

Pertumbuhan di ceruk pasar wisata minat khusus ini bisa menjadi peluang bagi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) untuk meningkatkan pendapatannya. BUMN maritim yang kini mengelola 224 unit armada ini memiliki fungsi strategis yang tidak sekadar untuk mendukung kelancaran distribusi barang logistik dan mobilitas masyarakat. Tetapi lebih dari itu, tujuan operasional ASDP adalah untuk memperkuat konektivitas antarpulau kecil, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dan mengakselerasi pertumbuhan industri pariwisata nasional.

Sebagai perusahaan pelat merah di bidang layanan transportasi antarpulau kecil, ekspansi ke layanan budget dive transport dapat menjadi strategi jitu bagi ASDP dalam mengembangkan pendapatan non-tiket (non-farebox revenue). Langkah ini sekaligus memperkuat konektivitas wisata bahari, terutama di kawasan pulau-pulau kecil yang tersebar di perairan Nusantara.

Menembus Barikade Harga
Paket wisata selam saat ini masih terbilang mahal. Riset dari data terbuka menemukan rata-rata paket perjalanan wisata selam dengan menggunakan kapal pesiar selam (diving liveaboard), baik yang berupa kapal phinisi maupun kapal modern, dijual antara USD 250-450 per malam, atau jika untuk paket wisata selam 7 malam/8 hari rata-rata dijual antara USD 1.800-4.000. 

Pada destinasi wisata selam premium seperti Raja Ampat dan Banda Neira, harga bisa melonjak hingga USD 380-650 per malam, atau USD 2.500-5.000 untuk paket 7 malam/8 hari. Sedangkan paket-paket di luar destinasi selam premium biasanya sedikit lebih rendah, tetapi tetap mahal.

Harga ini yang membuat pasar wisata selam selama ini lebih banyak didominasi oleh kalangan wisatawan asing, karena terlalu mahal bagi kantong sebagian besar wisatawan Nusantara.

Hal ini membuka peluang diferensiasi harga, model bisnis, dan inovasi baru di sektor pasar wisata selam, khususnya melalui penyediaan layanan transportasi laut yang lebih terjangkau.

(Zona Arlindo | Foto: Sukaselam)
Zona Arlindo
Zona Arlindo adalah kawasan wisata selam unggulan di Indonesia. Di dalam zona ini terdapat destinasi-destinasi wisata selam populer seperti Bali, Taman Nasional Komodo, Alor, Derawan, Wakatobi, Bunaken, Banda Neira, Morotai, Misool, Padaido Biak, hingga Raja Ampat. Selain itu juga terdapat belasan ribu pulau-pulau kecil yang dihuni terumbu karang subur dan spot selam.

Zona Arlindo sendiri adalah zona geografis maritim yang dilewati dan dipengaruhi oleh Arus Lintas Indonesia (Arlindo), yakni arus yang bergerak dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia melewati kawasan perairan tengah Indonesia. Arus ini merupakan salah satu faktor oseanografi penting yang sangat berperan dalam membentuk karakteristik ekosistem laut di Indonesia dan turut mendukung kekayaan biodiversitas laut. Membuat terumbu karang subur. 

Dari data Sukaselam, hampir semua rute perjalanan wisata selam yang paling diminati saat ini merupakan rute-rute wisata selam di dalam kawasan Zona Arlindo. Di kawasan yang unik ini terdapat lebih dari 3.000 situs selam yang rutin dikunjungi wisatawan selam sepanjang tahun.

Kawasan ini merupakan salah satu ceruk utama pariwisata selam di Indonesia. Peluang ASDP adalah memanfaatkan potensi rute armadanya di kawasan ini untuk memperoleh pendapatan di luar pendapatan tiket, melalui layanan non-tiket. Selain layanan transportasi umum via laut.

Di klaster Nusa Tenggara Timur (Kupang dan sekitar) misalnya, ASDP melayani 49 rute, yang terbagi ke dalam 9 lintasan komersial, 24 lintasan terusan, dan 15 rute perintis ke pulau-pulau kecil. Pulau-pulau kecil di kawasan Timur NTT ini selama ini merupakan spot penyelaman yang sangat populer dikunjungi para penyelam menggunakan kapal pesiar selam atau phinisi selam.

Sedangkan di klaster pulau terluar Papua dan sekitar, ASDP tercatat melayani 19 rute. Dan klaster Ternate melayani 25 rute lintasan. Data di atas hanya beberapa contoh bahwa ASDP menjadikan Zona Arlindo sebagai bagian penting dari jaringan jasa layanan transportasinya.

Data operasional ini menunjukkan bahwa ASDP tidak perlu membuka pasar layanan wisata dari nol karena sudah punya armada dan rute di Zona Arlindo. Tantangan berikut adalah bagaimana meningkatkan nilai fungsional armada tersebut melalui diferensiasi produk di sektor pariwisata.

(KMP Komodo | Foto: ASDP}
Belajar dari KMP Komodo
Langkah diversifikasi ini sejatinya juga bukan hal baru bagi ASDP. Karena ASDP memiliki rekam jejak dan pengalaman konkret dalam menggarap ceruk pasar wisata melalui pengoperasian KMP Komodo di Taman Nasional Komodo. Kapal wisata yang diluncurkan pertama kali pada akhir tahun 2018 tersebut, didesain khusus untuk melayani para pelancong kelas budget, dan juga sekaligus menjadi sarana layanan transportasi bagi warga Pulau Rinca dan Pulau Komodo.

Kehadiran KMP Komodo menjadi bukti ASDP mampu menyediakan moda transportasi kapal yang nyaman, memiliki fasilitas penunjang wisata, dan juga bisa adaptif terhadap daya beli wisatawan domestik. Kini layanan tersebut bisa dikembangkan ke dalam skala bisnis yang lebih luas dan lebih inovatif sesuai era kekinian, di antaranya melalui konsep layanan budget dive transport di kawasan emas Zona Arlindo yang menyimpan potensi pasar pariwisata yang besar. 

Belajar dari pengalaman KMP Komodo memberikan layanan wisata di kawasan Labuan Bajo, ASDP sebenarnya juga bisa mengadopsinya pada armada-armada lain di rute Zona Arlindo.

Di kawasan Kepala Burung misalnya, ASDP mempunyai armada KMP Lema yang melayani rute Sorong–Waisai (Raja Ampat) dan Sorong–Fakfak. Waisai (Raja Ampat), Kaimana, dan Fakfak adalah kawasan kepala burung yang memiliki potensi wisata selam kelas dunia.

Selain itu, ada juga KMP Terubuk 1 yang melayani konektivitas menuju Raja Ampat bagian selatan melalui rute terpencil Sorong–Folley (Misool Timur)–Waigama (Misool Barat). Kawasan Misool selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata selam yang memiliki kekayaan terumbu karang unik.

Di Wakatobi, armada ASDP seperti KMP Sultan Murhum II dan KM Mekar Teratai telah lama menjadi urat nadi mobilitas masyarakat setempat. KMP Sultan Murhum II menjadi jembatan penghubung antarpulau di rute Kamaru (Buton)–Kaledupa–Tomia–Binongko, sedangkan KM Mekar Teratai menyediakan opsi transportasi terjangkau dari Kendari menuju Wanci, ibu kota Wakatobi. Jaringan transportasi ini kian diperkuat oleh kehadiran armada perintis seperti KM Sabuk Nusantara yang mengoneksikan Wakatobi ke pulau-pulau kecil di Maluku.

Bergeser ke Sulawesi Utara, ASDP kini juga telah hadir di Likupang—salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yang popularitas wisata bawah lautnya terus berkembang. Di sini, ASDP mengoperasikan KMP Tarusi yang melayani rute Pananaru–Likupang–Melonguane.

Kehadiran kapal-kapal ini menunjukkan bahwa ASDP tidak perlu bersusah payah lagi mencari wilayah baru untuk melakukan inovasi. Kapal-kapal tersebut dapat diberdayakan untuk strategi diferensiasi usaha di bidang pariwisata minat khusus wisata selam, tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai sarana transportasi publik dan pemersatu logistik di daerah-daerah terpencil.

Dalam skema ini, kapal itu tidak perlu diubah menjadi akomodasi wisata atau tempat menginap seperti kapal pesiar selam (diving liveaboard). Fungsi utama tetap sebagai moda transportasi, tetapi diperluas dengan menyediakan layanan khusus bagi wisatawan selam, termasuk untuk pengangkutan perlengkapan selam, serta konektivitas menuju destinasi wisata bahari terpencil.

Strategi Mixed Bundling
Guna mengonversi potensi jaringan armada ini menjadi sumber pendapatan non-farebox, ASDP dapat menerapkan strategi diferensiasi mixed bundling. Model bisnis ini mengombinasikan berbagai komponen perjalanan yang selama ini terpisah menjadi satu paket penawaran yang lebih bernilai dan lebih kompetitif, serta menawarkan kepraktisan perjalanan bagi wisatawan. 

Alih-alih sekadar memasarkan tiket penyeberangan reguler, ASDP dapat membuat inovasi baru dengan meluncurkan paket wisata budget dive transport yang ramah di kantongnya wisatawan.

Paket ini dapat mengintegrasikan biaya transportasi laut, fee pengangkutan dan penyimpanan perlengkapan selam, konsumsi selama perjalanan, hingga pengurusan biaya retribusi konservasi daerah. Untuk memenuhi aspek-aspek teknis bawah lautnya, ASDP dapat menjalin kemitraan strategis dengan jaringan dive center, dive resort, operator wisata selam, kapal pesiar selam, serta pemandu selam lokal (dive guide) di setiap titik pelabuhan yang disinggahi.

ASDP dapat memanfaatkan platform digitalnya yang sudah populer, Ferizy, untuk mengemas dan mengomunikasikan produk inovasi baru ini ke pasar, terutama Gen Z yang serba digital. 

Dengan model tersebut, ASDP tidak harus bertransformasi menjadi operator dive liveaboard atau menyediakan fasilitas akomodasi di atas kapalnya, atau bahkan merombak kapalnya menjadi kapal wisata khusus yang membutuhkan dana besar. Perseroan dapat tetap fokus pada bisnis intinya di bidang layanan transportasi publik, sembari memperluas nilai komersial dari armadanya melalui layanan yang secara khusus menyasar kebutuhan para wisatawan selam.

Dengan berbekal kepemilikan infrastruktur pelabuhan secara mandiri, efisiensi konsumsi bahan bakar berkat skala armada yang besar, serta ekosistem logistik BUMN yang matang, armada kapal ASDP berpotensi menawarkan layanan transportasi wisata selam dengan biaya yang lebih kompetitif dibanding dengan paket perjalanan menggunakan kapal wisata khusus yang mahal.

Inovasi model bisnis berbasis mixed bundling ini tidak hanya dapat memperluas diversifikasi pendapatan perseroan di luar tiket reguler. Lebih dari itu, strategi ini dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses wisata selam bagi wisatawan domestik di Zona Arlindo. ***

Penulis: Wahyuana
Editor: Tim Redaksi


Jumat, 18 September 2026

Dihantam Krisis Air, Produksi Nikel IMIP dan Hengjaya Terancam Anjlok 30-40 Persen

(Tangki Penampungan air di kawasan IMIP, Bahodopi. Kebutuhan 20 PLTU Captive memicu krisis air bersih untuk warga sekitar | Foto: Sukaselam/Wahyuana)

Jakarta, 18 September 2026
Dua raksasa industri pertambangan dan pengolahan nikel di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, dilaporkan sedang menghadapi krisis kekurangan air.

Kamis, 17 September 2026

Penyelam Malaysia Meninggal di Crystal Bay

(Lokasi Crystal Bay, Nusa Penida | Peta : Sukaselam)

Nusa Penida, 17 September 2026
– Seorang penyelam asal Malaysia, Siti Nuraini (Perempuan, 39 tahun), mengalami kecelakaan selam di situs selam Crystal Bay, Rabu (16 September 2026).

Rabu, 16 September 2026

Diving di Morowali: dari Sombori hingga Bahomohoni

(Sekretariat Sombori Dive Conservation (SDC) di Bahomohoni | Foto: Sukaselam/Wahyuana}

Morowali, 16 September 2026
– Di tengah bentangan laut Bahodopi yang kini berwarna cokelat kemerahan akibat terkena sedimentasi dari penambangan nikel di hulu, muncul pertanyaan besar, apakah diving di Morowali masih menarik?

Jawabannya adalah menarik jika tak salah alamat.

Sabtu, 12 September 2026

Di Balik Hilangnya Ikan Nemo: Jejak Konsesi dan Sedimentasi di Bahodopi

(Sedimentasi di Pantai Kuerea, Bahodopi, Morowali | Foto: Sukaselam/Wahyuana)

Morowali, 12 September 2026
- Kawasan pesisir Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kini tak lagi ramah bagi biota laut.

Penyelaman terbaru dari tim Sukaselam mendapati kawanan ikan nemo (Amphiprioninae) yang ikonik dan ikan indikator kepe-kepe (Chaetodontidae) yang warna-warni, telah hilang dari laut Bahodopi. (Baca laporan: Tragedi di Bawah Laut Morowali: Kepe-kepe Bertahan diBahomohoni, Nemo Tak Ditemukan di Bahodopi).

Jumat, 28 Agustus 2026

Dinas Pangan: 98 Persen Seafood di Jakarta Bebas Formalin

(Hasudungan Sidabalok dalam Workshop Susut dan Sisa Pangan di Jakarta (27/8) | Foto: IBCSD)

Jakarta, 28 Agustus 2026 – Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengatakan (27/8) kantor dinas pangan selalu rutin melakukan pemantauan ketat terhadap kualitas pangan yang beredar di masyarakat di ibukota Jakarta. Termasuk makanan laut atau seafood.

Selasa, 25 Agustus 2026

Lagi, Snorkeler China Meninggal di Labuan Bajo

(Pink Beach Pulau Padar | Foto: ilustrasi)

Labuan Bajo, 25 Agustus 2026
– Seorang turis China, Zou Huarong (29 tahun, perempuan), meninggal setelah mengalami kecelakaan selam di Long Beach, Pulau Padar, hari ini Selasa (25 Agustus 2026) siang, di kawasan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Jumat, 21 Agustus 2026

Gempa di Flores Menyebabkan Terumbu Police Corner Terbelah, Mirip The Crack Maumere 1992


Labuan Bajo, 21 Agustus 2026
– Dikutip dari posting video pada akun instagram @tarsisabat @indoaura.id dan @stefanafro. Ketiga-nya merupakan penyelam profesional di Labuan Bajo.

Gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA pekan lalu, ternyata tidak hanya berdampak pada lingkungan daratan saja, tetapi juga berdampak pada terumbu di bawah laut.

Kamis, 20 Agustus 2026

Lebih 600 Kecelakaan Kapal di Indonesia dalam 7 Bulan Terakhir, Nomor 2 Terburuk di Dunia

(Kecelakaan kapal fery KM Putri Yasmin di Selat Lombok, Agustus 2026 | Foto: istimewa)

Jakarta, 20 Agustus 2026
– Meski merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dan telah merdeka 81 tahun, Indonesia masih tercatat sebagai negara dengan transportasi laut paling buruk di dunia. Data terbaru dari Basarnas, ada lebih 601 kecelakaan kapal yang telah terjadi antara Januari hingga 15 Agustus 2026.

Selasa, 18 Agustus 2026

Auriga Nusantara Peringati HUT RI dengan Menyelam dan Tanam Karang

(Transplantasi karang di perairan Desa Sagea oleh Auriga Nusantara | Foto: Auriga Nusantara)

Sagea, 18 Agustus 2026
– Lembaga swadaya masyarakat Auriga Nusantara memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81 dengan cara tak biasa. Bukan dengan upacara bendera di lapangan umum, melainkan bergabung bersama masyarakat Desa Sagea, Halmahera Tengah, Maluku Utara, melakukan pengibaran bendara Merah Putih di kedalaman laut perairan Sagea, pada Senin, 17 Agustus 2026 siang.