Rabu, 14 Oktober 2026

Kapal Pesiar Selam Tenggelam di Komodo, Satu Penyelam Masih Belum Ditemukan

(Lokasi kejadian tenggelamnya KM Feronia | Gambar: Sukaselam)

Jakarta, 14 Oktober 2026 – Sebuah kapal pesiar selam, KM Feronia, tenggelam di Selat Lintah, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Selasa (13 Oktober 2026) siang. 

Setelah melakukan penyelaman di situs selam Karang Makassar atau populer disebut juga  Manta Point, dan sedang dalam perjalanan ke lokasi berikutnya Tatawa Besar, yang berlokasi tak jauh. 

Beruntung, dari 25 penyelam dan 5 kru kapal, 29 orang bisa diselamatkan. 

Sedang satu penyelam divemaster bernama Veronika Jessica (23 tahun), warga Indonesia, masih belum ditemukan hingga Rabu siang.

“Proses pencarian masih terus dilakukan. Hari ini hari kedua pencarian, Tim SAR Gabungan merencanakan akan melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian dan juga melakukan penyelaman,” ujar Fathur Rahman, Kepala Basarnas Maumere, yang mengoordinasi upaya pencarian ini, Rabu (14/10).

KM Feronia merupakan kapal wisata yang membawa turis dari berbagai negara. 

Hari itu, di antaranya membawa 21 turis dari Austria, Australia, Spanyol, Amerika Serikat, China, Perancis, Swiss, Inggris, Kanada, dan lain-lain. 

Termasuk 4 wisatawan Nusantara, dan 5 kru kapal semua warga Indonesia. 

Hari itu, mereka melakukan long day trip, perjalanan dimulai dari pagi berangkat dari Pelabuhan Marina, Labuan Bajo, dengan tujuan ke Pulau Rinca untuk melihat Komodo.

Dan setelah dari Pulau Rinca, mengunjungi beberapa situs selam dan snorkeling di berbagai lokasi, sambil melakukan perjalanan pulang kembali ke Pelabuhan Marina, pada selepas siang.

Namun naas, setelah melakukan penyelaman dan snorkeling di situs Manta Point, dan dalam  perjalanan hendak ke situs selam Tatawa Besar, kapal mengalami kecelakaan akibat terkena arus dan gelombang permukaan yang terkenal kuat melintas di sepanjang Selat Lintah.

Kejadian sekitar pukul 14.30 waktu setempat. 

Beruntung, seluruh penumpang dan kru berhasil segera dievakuasi, dengan bantuan dari kapal-kapal wisata lain yang saat itu berada di sekitar lokasi kejadian. 

Hanya beberapa jam setelah kejadian, badan kapal KM Feronia yang tersisa pun langsung terbalik, tenggelam semua ditelan arus laut. 

(Evakuasi penumpang KM Feronia | Foto: Basarnas Maumere)
Selat Lintah

Kejadian seperti ini bukan yang pertama kali terjadi di Selat Lintah, Taman Nasional Komodo. 

Namun, sudah kerap terjadi di sini. 

Selat Lintah yakni sela tantara Pulau Komodo dan Pulau Rinca, memang dikenal merupakan perairan dengan arus kuat.

Selat ini merupakan jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang bergerak dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia. 

Arus di lokasi ini bisa bergerak 2-3 knot. Kehadiran arus ini pula yang menyebabkan Selat Lintah dihuni terumbu karang subur dan dihuni banyak ikan ikan, termasuk manta, hiu dan paus.

Terletak di Zona Arlindo yang membuat kawasan ini berarus kuat, sekaligus merupakan destinasi selam premium dan spot kunjungan selam paling populer di Taman Nasional Komodo.

Pulau Tatawa Besar yang terletak di tengah-tengah Selat Lintah terkenal dikelilingi arus. 

Di selat ini, terletak situs selam-situs selam paling populer di TN Komodo seperti Karang Makassar atau disebut juga Manta Point 1, Takat Makassar atau disebut juga Manta Point 2, Batu Bolong, Tatawa Kecil, Tatawa Besar, Mawan, dan Police Corner. 

Hampir setiap hari, ratusan penyelam dan wisatawan mengunjungi lokasi ini sepanjang waktu. 

Sehingga, saat ada kejadian emergency cukup tersedia banyak bantuan dari kapal-kapal wisata lain yang sedang lewat atau sedang mengantar penyelam. ***

Penulis: Wahyuana
Editor: Tim Penulis


Jumat, 09 Oktober 2026

Empat Penyelam Hilang di Sikka Berhasil Ditemukan Selamat, Mengapa Pangabatang Selatan Menarik?

(Situs selam Pangabatang Selatan | Ilustrasi: Sukaselam.com) 

Jakarta, 9 Oktober 2026
– Empat penyelam yang dilaporkan hilang di perairan Teluk Maumere, Sikka, NTT, pada Minggu (4/10) lalu, akhirnya berhasil ditemukan selamat pada keesokan harinya, Senin (5/10).

Kamis, 24 September 2026

Krisis Air Mulai Mengganggu Industri Nikel Morowali

(Cerobong asap dari salah satu smelter di kompleks industri IMIP, Bahodopi | Foto: Sukaselam/Wahyuana)

Jakarta, 24 September 2026
– Penurunan debit air sungai mulai mengganggu operasional sejumlah smelter nikel di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. 

Minggu, 20 September 2026

Melirik Budget Dive Transport: Peluang Baru ASDP Mengembangkan Non-Farebox Revenue di Zona Arlindo

(KMP Terubuk layanan ASDP menuju Misool | Foto: repro Tribunpapuabarat)

Jakarta, 20 September 2026
– Tren wisata selam di Indonesia terus melonjak dari tahun ke tahun. Memang belum ada data resmi berskala nasional yang merangkum total kumulatif wisatawan selam per tahun. Namun, laporan dari setiap destinasi selam unggulan menegaskan kecenderungan peningkatan tersebut. 

Jumat, 18 September 2026

Dihantam Krisis Air, Produksi Nikel IMIP dan Hengjaya Terancam Anjlok 30-40 Persen

(Tangki Penampungan air di kawasan IMIP, Bahodopi. Kebutuhan 20 PLTU Captive memicu krisis air bersih untuk warga sekitar | Foto: Sukaselam/Wahyuana)

Jakarta, 18 September 2026
– Dua raksasa industri pertambangan dan pengolahan nikel di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, dilaporkan sedang menghadapi krisis kekurangan air.

Kamis, 17 September 2026

Penyelam Malaysia Meninggal di Crystal Bay

(Lokasi Crystal Bay, Nusa Penida | Peta : Sukaselam)

Nusa Penida, 17 September 2026
– Seorang penyelam asal Malaysia, Siti Nuraini (Perempuan, 39 tahun), mengalami kecelakaan selam di situs selam Crystal Bay, Rabu (16 September 2026).

Rabu, 16 September 2026

Diving di Morowali: dari Sombori hingga Bahomohoni

(Sekretariat Sombori Dive Conservation (SDC) di Bahomohoni | Foto: Sukaselam/Wahyuana}

Morowali, 16 September 2026
– Di tengah bentangan laut Bahodopi yang kini berwarna cokelat kemerahan akibat terkena sedimentasi dari penambangan nikel di hulu, muncul pertanyaan besar, apakah diving di Morowali masih menarik?

Jawabannya adalah menarik jika tak salah alamat.

Sabtu, 12 September 2026

Di Balik Hilangnya Ikan Nemo: Jejak Konsesi dan Sedimentasi di Bahodopi

(Sedimentasi di Pantai Kuerea, Bahodopi, Morowali | Foto: Sukaselam/Wahyuana)

Morowali, 12 September 2026
- Kawasan pesisir Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kini tak lagi ramah bagi biota laut.

Penyelaman terbaru dari tim Sukaselam mendapati kawanan ikan nemo (Amphiprioninae) yang ikonik dan ikan indikator kepe-kepe (Chaetodontidae) yang warna-warni, telah hilang dari laut Bahodopi. (Baca laporan: Tragedi di Bawah Laut Morowali: Kepe-kepe Bertahan diBahomohoni, Nemo Tak Ditemukan di Bahodopi).