Senin, 13 Juli 2026

Anak Krakatau dan Karangetang Kembali Produktif Suburkan Terumbu Karang

(Gunung Karangetang, Pulau Siau, Sitaro, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: BPBD Siau)

Serang, SUKASELAM.COM
– Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Lampung, dilaporkan kembali aktif mengeluarkan semburan lava panas (erupsi), pada Minggu 12 Juli 2026 siang.

Laporan dari pos pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di Pasauran, Serang, Banten, mengatakan sejak 2 Juli hingga 11 Juli 2026 (Sabtu pekan lalu), tercatat gunung api di tengah laut ini telah mengalami letusan hingga 18 kali.

“Untuk hari ini (Minggu siang (12/7)) belum ada letusan. Namun sejak tanggal 2 Juli hingga kemarin tercatat ada 18 letusan,” ujar Rio Bonik Situmorang, petugas PVBG di Pasauran, seperti dikutip dari RRI Online.

Menurut Rio, letusan Gunung Anak Krakatau bersifat fluktuatif. Tingkat kegempaan kadang meningkat tajam pada saat tertentu, kemudian menurun lagi, dan meningkat lagi saat lain.

Meningkatnya kegempaan dan erupsi sejak awal bulan ini, membuat PVMBG kini menaikkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Siaga (level III).

Naik dari biasanya berstatus Waspada (level II).

Tidak ada tanda-tanda akan terjadi tsunami, seperti yang pernah terjadi pada letusan besar pada Desember 2018 lalu, yang menelan lebih 400 korban jiwa.

Kini, fenomena erupsi hanya berupa letusan-letusan kecil saja, material letusan hanya turun sampai pada sekitar puncak kubah kawah, tidak sampai turun ke perairan sekitar.

Gunung Karangetang

Dalam waktu hampir bersama, Gunung Karangetang, di Pulau Siau, Sitaro, Sulawesi Utara, juga dilaporkan kembali aktif, pada Senin 13 Juli 2026.

Dikutip dari Kompas.com, petugas Pos Pemantau Gunung Karangetang PVMBG, di Pulau Siau, melaporkan, Gunung Karangetang kembali meletus pada Minggu malam, pukul 19.13 WITA.

“Masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai-sungai yang berhulu pada Gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaannya dari kemungkinan terjadi lahar turun akibat hujan dan banjir bandang,” ujar petugas pos pemantauan Gunung Karangetang, Vieko Kristianse Rompas, (13/7).

Menurut Vieko, erupsi Gunung Karangetang pada Minggu malam, terekam di alat seismogram berlangsung dengan amplitudo maksimum 50 mm, dengan durasi lebih kurang 2 menit 33 detik.

Akibat letusan ini, kata Vieko, terjadi lontaran lava pijar hingga 100 meter di atas puncak kawah bagian utara, dengan jarak turun lontaran lava ke arah selatan dan barat daya hingga radius 300 meter dari puncak kawah. Lontaran lava tak sampai menyentuh bibir pantai dan turun ke laut.

Situs Selam

Sama seperti di darat, letusan gunung berapi dalam jangka panjang menyuburkan kehidupan sekitar.

Jika di darat letusan gunung berapi dalam jangka panjang menyuburkan vegetasi sekitar, demikian juga di laut letusan gunung berapi dalam jangka panjang menyuburkan terumbu karang tepi sekitar.

Riset dari sejumlah peneliti menemukan, terumbu karang rusak total secara langsung akibat tertimpa lahar dan lava erupsi pada saat letusan gunung berapi laut terjadi.

Namun, setelah beberapa lama, lava dan lahar yang jatuh ke pinggir pantai, kemudian akan berefek positif pada mensuplai nutrisi untuk pertumbuhan karang, sehingga terumbu karang disekitar gunung berapi laut menjadi subur kembali.

Demikian juga di Gunung Anak Krakatau dan Gunung Karangetang.

Di Gunung Anak Krakatau, dari letusan besar pada Desember 2018 lalu, menyebabkan munculnya situs selam baru yakni Lava Flow Anak Krakatau dan menyuburkan situs selam lama Karang Serang Rock dan Legon Cabe.

Sedang Gunung Karangetang terkenal dikelilingi situs-situs selam populer seperti Lava Flow Kiawang, Batu Kapal, Lava Flow Karangetang, dan Lava Flow Apelawo. ***

Penulis: Wahyuana
Editor : Tim Redaksi

Kamis, 09 Juli 2026

Trip Selam Makin Padat, TN Komodo Terapkan Kuota dan Interval Waktu 20-30 Menit

(Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo | Foto: Istimewa)
Labuhan Bajo, SUKASELAM.COM – Taman Nasional Komodo (TN Komodo) menerapkan sistem kuota dan pemberlakuan interval waktu 20-30 menit antar rombongan kapal trip selam.

Selasa, 07 Juli 2026

Etika Kapal Pesiar Selam yang Wajib Dipatuhi Agar Tragedi Maratua Tidak Terulang

(Kapal pesiar selam | Foto Istimewa)
Jakarta, SUKASELAM.COM – Insiden kapal pesiar selam (diving liveaboard) kandas dan melindas terumbu karang di situs selam Maratua Channel, Maratua, Berau, Kalimantan Timur, pada Jumat 19 Juni 2026 lalu, hingga hari ini masih menjadi sorotan hangat. 

Jumat, 03 Juli 2026

Tragedi di Bawah Laut Morowali: Kepe-kepe Bertahan di Bahomohoni, Nemo Tak Ditemukan di Bahodopi

(Sedimentasi di Pantai Kuerea, Desa Kuerea, Bahodopi | Foto: Sukaselam/Wahyuana)
SUKASELAM.COM, Morowali – Terletak di jantung Zona Arlindo (Zona Arus Lintas Indonesia), perairan pesisir Kabupaten Morowali yang membentang di tengah Teluk Tolo, Sulawesi Tengah, secara teoritis adalah rumah alami ekosistem terumbu karang yang dihuni banyak ikan.

Rabu, 24 Juni 2026

Komunitas Berau Divers Kecam Kapal Pesiar Selam Kandas di Maratua Channel

(Foto kapal pesiar selam kandas di Maratua Channel (19/6) | Foto: Istimewa)

SUKASELAM.COM, Berau –
Komunitas Berau Divers (KBD) mengecam keras insiden kandasnya kapal pesiar selam MV Seaisee I tepat pada area situs selam Maratua Channel, atau disebut juga situs Channel Point, di gugusan Atol Maratua, Derawan, Berau, Kalimantan Timur, pada Jumat (19 Juni 2026) pekan lalu.

Jumat, 17 April 2026

DRT, DXI, dan MAX: Apa Yang Menarik dari 3 Expo Underwater Terbesar di Jakarta Bulan Ini?


SUKASELAM.COM, Jakarta
– Industri underwater Indonesia semakin menarik. Baru di bulan ke-empat tahun ini saja, sudah ada 3 pameran industri wisata selam dan kelautan skala besar, yang di gelar di Jakarta. Gelaran ini menunjukkan geliat sektor blue economy yang semakin potensial.

Rabu, 15 April 2026

Inkonsistensi Penegakan Hukum Jadi ‘Obstacle’ Perlindungan Pulau-pulau Kecil dari Destruksi Tambang Nikel


SUKASELAM.COM, Jakarta –
Lemahnya konsistensi dalam menjalankan keputusan hukum dari Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap perlindungan pulau-pulau kecil, yang menjadi penyebab makin maraknya penambangan Nikel yang berdampak negatif di pulau-pulau kecil di Indonesia.

Demikian menurut Stephanie Juwana, Direktur Program Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), Minggu (12/4), dalam acara talkshow “Transisi Energi yang Melukai: Ekspansi Nikel dan Masa Depan Pesisir serta Pulau-pulau Kecil Nusantara.”

Penyelam Ditemukan Meninggal di Gili Air

Ilustrasi by Alamy.com
SUKASELAM.COM, Gili Air – Kasus kecelakaan selam terbaru ditemukan di perairan Gili Air, Gili Indah, Pemenang, Lombok Utara, NTB.

Seorang penyelam asal Inggris, Robert Peter (46 tahun), ditemukan telah meninggal di kedalaman 12 meter di perairan pulau Gili Air oleh tim SAR dari Kantor SAR Mataram, pada Selasa (24/3) sore.

Dikutip dari SuaraNTB, Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi mengatakan, kantornya mendapatkan laporan dari masyarakat tentang hilangnya seorang penyelam di perairan Gili Air pada Selasa siang.

Laporan tersebut segera ditindaklanjuti dengan mengirimkan tim SAR untuk melakukan pencarian.

Hingga korban kemudian ditemukan kurang dari 2 jam setelah proses pencarian berjalan.

Jumat, 19 September 2025

Makin Banyak Wisatawan Memilih Wahana Air Sebagai Detoks Digital

(Terumbu Karang di Melissa Garden | Foto: Sukaselam.com)

SUKASELAM.COM, Jakarta
- Trend wisatawan terus berubah. Kini makin banyak yang memilih liburan bersama wahana air (yang perlu skill), dari pada liburan model tradisional (yang pasif).

Baik itu wahana air berupa pantai, danau, sungai, maupun laut dalam. Wahana air menawarkan perpaduan relaksasi, sensasi, dan petualangan.

Riset future market insight mencatat kini pasar wisata wahana air mencapai nilai omset hingga 2.160 miliar dollar pada 2024. Dan diperkirakan mencapai 1,06 trilliun dollar pada tahun 2034.

Jumat, 05 September 2025

Sejarah Sains Raja Ampat dari 1700 Hingga Hari Ini

(Coral Bleaching di Raja Ampat | Foto: Istimewa)
     
SUKASELAM.COM, Raja Ampat -
Publik memberi apresiasi pada keputusan Presiden Prabowo Subianto mencabut empat izin tambang nikel di pulau-pulau kecil di Kepulauan Raja Ampat. Keputusan itu menunjukkan keseriusan pemerintah pada komitmen melindungi kawasan Raja Ampat. Wilayah ini adalah cagar alam yang tidak hanya penting bagi ekologi Nusantara, tetapi juga bagi kesehatan iklim planet bumi. Sehingga, keberadaannya harus dilindungi dari kerusakan dan penambangan.