Kamis, 09 Juli 2026

Trip Selam Makin Padat, TN Komodo Terapkan Kuota dan Interval Waktu 20-30 Menit

(Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo | Foto: Istimewa)
Labuhan Bajo, SUKASELAM.COM – Taman Nasional Komodo (TN Komodo) menerapkan sistem kuota dan pemberlakuan interval waktu 20-30 menit antar rombongan kapal trip selam.

Aturan ini berlaku pada situs-situs selam populer yang dikunjungi banyak penyelam setiap hari, terutama di saat musim liburan seperti saat ini.

Seperti di situs selam Batu Bolong, Crystal Rock, Manta Point, Castel Rock, Mawan, dan Siaba Besar.

Di Batu Bolong kapal (rombongan penyelam) dibatasai hanya diijinkan 8 kapal setiap hari. 

Batu Bolong adalah situs selam paling populer dan paling banyak di kunjungi penyelam di TN Komodo.

Di Siaba Besar dan Mawan, yang terletak tak jauh dari Batu Bolong, sama-sama terletak di Selat Lintah, kuota dibatasi hanya boleh 20 kapal per hari.

Sedang di Manta Point 1 atau populer disebut juga situs Karang Makassar, yang juga terletak di Selat Lintah, hanya boleh diakses 32 kapal per hari.

Peraturan yang mulai berlaku April 2026 ini, bertujuan untuk mengurangi kepadatan di setiap situs selam.

“Selain untuk mengurangi kepadatan penyelam di lokasi. Juga agar wisatawan bisa menikmati keindahan bawah laut dengan lebih tenang,” ujar Hendrikus Rani Siga, Kepala TN Komodo, seperti dilansir oleh CNN Indonesia, 28 April 2026.

Kemudian interval waktu antar kapal untuk saling bergantian mengakses lokasi sekira 20-30 menit. 

Sedang waktu penyelaman oleh setiap penyelam tidak dibatasi, namun harus tahu diri untuk berbagi waktu dan memberi kesempatan kepada rombongan lain yang mengantri.

Kunjungan ke spot-spot wisata di daratan di dalam TN Komodo kini juga dibatasi hanya untuk 1.000 orang per hari per spot.

Seperti Pulau Rinca hanya boleh dikunjungi untuk 250 orang per sesi kunjungan. 

Pulau Komodo 150 orang per sesi kunjungan. Dan Pulau Padar 60 orang per sesi kunjungan.

Di masing-masing spot populer itu, setiap hari dibuka 3 kali sesi kunjungan (pagi, siang, dan sore). 

Sedang di spot-spot wisata lain yang tidak terlalu padat pengunjung, peraturan lebih longgar.

Demikian juga untuk kuota kapal, selain pada situs-situs selam populer di atas, jumlah kunjungan kapal untuk penyelaman di situs-situs selam lain diterapkan lebih longgar.

Terdapat 67 situs selam di TN Komodo yang terbagi dalam 3 zona yaitu kawasan utara, tengah, dan selatan. 

Situs-situs selam populer hampir semua di zona utara, yang terkenal berarus kuat dan dihuni biodiversitas karang dan ikan tinggi.

Sehingga jika di kawasan utara terlalu sibuk, penyelaman bisa digeser ke tengah atau ke selatan. 

Labuan Bajo 

Selain di dalam kawasan TN Komodo, juga terdapat 20 situs selam lain yang tidak kalah bagus dan menarik, pada perairan antara Labuhan Bajo dan kawasan TN Komodo, yang bisa diselami.

Seperti Sebayur Besar, Komodo House Reef, Seraya Kecil, Mini Wall, dan Pulau Bidadari. ***

Penulis: Wahyuana
Editor: Tim Redaksi

Selasa, 07 Juli 2026

Etika Kapal Pesiar Selam yang Wajib Dipatuhi Agar Tragedi Maratua Tidak Terulang

(Kapal pesiar selam | Foto Istimewa)
Jakarta, SUKASELAM.COM – Insiden kapal pesiar selam (diving liveaboard) kandas dan melindas terumbu karang di situs selam Maratua Channel, Maratua, Berau, Kalimantan Timur, pada Jumat 19 Juni 2026 lalu, hingga hari ini masih menjadi sorotan hangat. 

Jumat, 03 Juli 2026

Tragedi di Bawah Laut Morowali: Kepe-kepe Bertahan di Bahomohoni, Nemo Tak Ditemukan di Bahodopi

(Sedimentasi di Pantai Kuerea, Desa Kuerea, Bahodopi | Foto: Sukaselam/Wahyuana)
SUKASELAM.COM, Morowali – Terletak di jantung Zona Arlindo (Zona Arus Lintas Indonesia), perairan pesisir Kabupaten Morowali yang membentang di tengah Teluk Tolo, Sulawesi Tengah, secara teoritis adalah rumah alami ekosistem terumbu karang yang dihuni banyak ikan.

Rabu, 24 Juni 2026

Komunitas Berau Divers Kecam Kapal Pesiar Selam Kandas di Maratua Channel

(Foto kapal pesiar selam kandas di Maratua Channel (19/6) | Foto: Istimewa)

SUKASELAM.COM, Berau –
Komunitas Berau Divers (KBD) mengecam keras insiden kandasnya kapal pesiar selam MV Seaisee I tepat pada area situs selam Maratua Channel, atau disebut juga situs Channel Point, di gugusan Atol Maratua, Derawan, Berau, Kalimantan Timur, pada Jumat (19 Juni 2026) pekan lalu.

Jumat, 17 April 2026

DRT, DXI, dan MAX: Apa Yang Menarik dari 3 Expo Underwater Terbesar di Jakarta Bulan Ini?


SUKASELAM.COM, Jakarta
– Industri underwater Indonesia semakin menarik. Baru di bulan ke-empat tahun ini saja, sudah ada 3 pameran industri wisata selam dan kelautan skala besar, yang di gelar di Jakarta. Gelaran ini menunjukkan geliat sektor blue economy yang semakin potensial.

Rabu, 15 April 2026

Inkonsistensi Penegakan Hukum Jadi ‘Obstacle’ Perlindungan Pulau-pulau Kecil dari Destruksi Tambang Nikel


SUKASELAM.COM, Jakarta –
Lemahnya konsistensi dalam menjalankan keputusan hukum dari Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap perlindungan pulau-pulau kecil, yang menjadi penyebab makin maraknya penambangan Nikel yang berdampak negatif di pulau-pulau kecil di Indonesia.

Demikian menurut Stephanie Juwana, Direktur Program Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), Minggu (12/4), dalam acara talkshow “Transisi Energi yang Melukai: Ekspansi Nikel dan Masa Depan Pesisir serta Pulau-pulau Kecil Nusantara.”

Penyelam Ditemukan Meninggal di Gili Air

Ilustrasi by Alamy.com
SUKASELAM.COM, Gili Air – Kasus kecelakaan selam terbaru ditemukan di perairan Gili Air, Gili Indah, Pemenang, Lombok Utara, NTB.

Seorang penyelam asal Inggris, Robert Peter (46 tahun), ditemukan telah meninggal di kedalaman 12 meter di perairan pulau Gili Air oleh tim SAR dari Kantor SAR Mataram, pada Selasa (24/3) sore.

Dikutip dari SuaraNTB, Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi mengatakan, kantornya mendapatkan laporan dari masyarakat tentang hilangnya seorang penyelam di perairan Gili Air pada Selasa siang.

Laporan tersebut segera ditindaklanjuti dengan mengirimkan tim SAR untuk melakukan pencarian.

Hingga korban kemudian ditemukan kurang dari 2 jam setelah proses pencarian berjalan.

Jumat, 19 September 2025

Makin Banyak Wisatawan Memilih Wahana Air Sebagai Detoks Digital

(Terumbu Karang di Melissa Garden | Foto: Sukaselam.com)

SUKASELAM.COM, Jakarta
- Trend wisatawan terus berubah. Kini makin banyak yang memilih liburan bersama wahana air (yang perlu skill), dari pada liburan model tradisional (yang pasif).

Baik itu wahana air berupa pantai, danau, sungai, maupun laut dalam. Wahana air menawarkan perpaduan relaksasi, sensasi, dan petualangan.

Riset future market insight mencatat kini pasar wisata wahana air mencapai nilai omset hingga 2.160 miliar dollar pada 2024. Dan diperkirakan mencapai 1,06 trilliun dollar pada tahun 2034.

Jumat, 05 September 2025

Sejarah Sains Raja Ampat dari 1700 Hingga Hari Ini

(Coral Bleaching di Raja Ampat | Foto: Istimewa)
     
SUKASELAM.COM, Raja Ampat -
Publik memberi apresiasi pada keputusan Presiden Prabowo Subianto mencabut empat izin tambang nikel di pulau-pulau kecil di Kepulauan Raja Ampat. Keputusan itu menunjukkan keseriusan pemerintah pada komitmen melindungi kawasan Raja Ampat. Wilayah ini adalah cagar alam yang tidak hanya penting bagi ekologi Nusantara, tetapi juga bagi kesehatan iklim planet bumi. Sehingga, keberadaannya harus dilindungi dari kerusakan dan penambangan.

Selasa, 26 Agustus 2025

Penyelam Belanda Meninggal di Turtle City Pulau Siaba Besar

Turtle City di Pulau Siaba Besar

SUKASELAM.COM, Labuan Bajo
- Penyelam asal Belanda, Gilles Van Bell, meninggal dunia ketika melakukan penyelaman di situs selam Turtle City, Pulau Siaba Besar, TN Komodo, Labuan Bajo, Minggu (24/8).