| (Hasudungan Sidabalok dalam Workshop Susut dan Sisa Pangan di Jakarta (27/8) | Foto: IBCSD) |
Jakarta, 28 Agustus 2026 – Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengatakan (27/8) kantor dinas pangan selalu rutin melakukan pemantauan ketat terhadap kualitas pangan yang beredar di masyarakat di ibukota Jakarta. Termasuk makanan laut atau seafood.
“Untuk seafood,
kami melakukan pengawasan langsung di pasar induk Muara Baru dan Muara Angke.
Untuk memantau ikan-ikan yang baru turun dari perahu-perahu nelayan, maupun
ikan segar yang baru datang datang dari luar daerah,” ujar Hasudungan, di
sela-sela menjadi pembicara pada workshop Jakarta Food Loss and Waste (Susut
dan Sisa Pangan/SSP) yang digelar oleh Indonesia Business Council for
Sustainable Development (IBCSD) di Jakarta, Kamis.
Menurut
Hasudungan, selain melakukan pengawasan ketat pada ikan segar yang baru turun
dari kapal, pihaknya juga menyediakan fasilitas cold storage di pelabuhan ikan
untuk menyimpan sementara ikan-ikan nelayan agar terhindar dari susut pangan
akibat penurunan kualitas sebelum berada di tangan konsumen. Fasilitas
tersebut, menurutnya, disediakan di pasar induk.
Sedang untuk
seafood di pasar distribusi, pengawasan dilakukan dengan operasi pemantauan.
“Di pasar
memang kadang ada pedagang yang memberi formalin agar ikan lebih awet dan
terhindar dari pembusukan sebelum di tangan pembeli. Namun, itu biasanya pada
ikan asin. Kalau untuk ikan segar di Jakarta, saya jamin 98 persen bebas
formalin,” ujar Hasudungan.
Diakui
Hasudungan, dinas pangan di Jakarta baru bisa menyediakan fasilitas cold
storage untuk menjaga kualitas ikan segar yang turun dari laut. Sedang
kebutuhan es untuk tingkat pedagang lapak dan distributor, belum bisa
menyediakan, sehingga pedagang harus mengusahakan sendiri kebutuhan es untuk
mempertahankan kualitas dagangannya.
“Tetapi kami selalu
melakukan pengawasan ketat untuk menjamin kualitas ikan segar di tingkat pasar.
Kami juga mempunyai mobile laboratorium untuk menguji kualitas pangan termasuk
seafood dengan datang ke pasar-pasar setiap saat. Haslnya selama ini bagus
semua,” ujarnya.
Menurut
Hasudungan, dinas juga setiap bulan menyalurkan ratusan ton ikan kembung dengan
harga murah, Rp 13.000 per kilogram, yang disalurkan kepada warga Jakarta yang
membutuhkan.
| (Workshop Susut dan Sisa Pangan (27/8) | Foto: IBCSD) |
Menurut
Trishanty Rondonuwu, Communication Manager IBCSD, IBCSD adalah asosiasi
perusahaan-perusahaan produk pangan di Indonesia yang memiliki komitmen
mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Organisasi non-profit yang
telah berdiri sejak 2012 ini, salah satu kegiatannya saat ini adalah
menginisiasi program GRASP 2030 (Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan).
Yaitu program kampanye dan aksi mengatasi Susut dan Sisa Pangan (SSP) hingga
setengahnya pada 2030 melalui kerjasama dengan berbagai pihak.
“Data Bappenas,
volume Susut dan Sisa Pangan di Indonesia saat ini, berkisar 23-48 juta ton per
tahun. Atau setara 115-184 kilogram per orang per tahun. Jumlah pangan yang
terbuang itu cukup untuk kebutuhan pangan bagi 61-120 juta orang. Pada waktu
yang sama, kita sering mendengar juga masih banyak warga kita yang mengalami
kekurangan pangan, atau mengonsumsi makanan kualitas rendah, itu yang menjadi
perhatian kami,” ujar Trishanty. ***
Penulis:
Wahyuana
Editor: Tim Redaksi