Jumat, 03 Juli 2026

Tragedi di Bawah Laut Morowali: Kepe-kepe Bertahan di Bahomohoni, Nemo Tak Ditemukan di Bahodopi

(Sedimentasi di Pantai Kuerea, Desa Kuerea, Bahodopi | Foto: Sukaselam/Wahyuana)

SUKASELAM.COM, Morowali
– Terletak di jantung Zona Arlindo (Zona Arus Lintas Indonesia), perairan pesisir Kabupaten Morowali yang membentang di tengah Teluk Tolo, Sulawesi Tengah, secara teoritis adalah rumah alami ekosistem terumbu karang yang dihuni banyak ikan.

Kehadiran Proyek Strategi Nasional (PSN) industri hilirisasi tambang nikel yang masif dan eksploitatif sejak 13 tahun lalu, membawa degradasi terumbu karang di wilayah ini kian parah.

Reportase oleh tim Sukaselam pada pertengahan Juni lalu menemukan fakta, nemo atau ikan badut (Amphiprioninae) sudah tidak lagi tampak di sepanjang perairan Kecamatan Bahodopi, wilayah yang kini menjelma menjadi kota padat penduduk dan sentra industri tambang nikel.

Sementara itu, populasi ikan kepe-kepe (Chaetodontidae) ditemukan makin menurun di pesisir Bahomohoni, Bungku Tengah, ibukota Kabupaten Morowali --wilayah yang terletak 60 kilometer di utara Bahodopi dengan dampak sedimentasi yang relatif lebih rendah.

“Memang harus diakui banyak terumbu karang di sini, kini rusak tertimbun lumpur akibat sedimentasi yang meningkat setelah ada tambang. Terutama di Bahodopi, sebagian Bungku Pesisir, dan Pulau Langala,” ujar Rahmat Naga, seorang penyelam lokal Morowali, penggiat komunitas selam Sombori Dive Conservation (SDC).


Rahmat mengenang masa-masa ketika pesisir Morowali masih dipenuhi ikan karang warna-warni yang bisa dilihat dengan jelas langsung dari atas perahu ketinting.

Kala itu, sedimentasi yang membuat air laut cokelat dan keruh hanya terjadi sewaktu hujan deras, dengan radius dampak terbatas di sekitar garis pantai.

Namun, seiring berkembangnya aktivitas tambang, material sedimen dilaporkan terus mengalir setiap saat melalui sungai-sungai dari wilayah perbukitan di pedalaman menuju perairan pesisir.

Lumpur sedimen itu kemudian mengendap di laut, mematikan terumbu karang, dan mengubah warna air laut menjadi cokelat pekat, sehingga menghambat masuknya cahaya matahari ke dalam terumbu. “Kalau pagi, radius 500 meter ke tengah, air berwarna cokelat,” kata Rahmat.

Kiamat Karang di Bahodopi

Penyelaman yang dilakukan oleh tim Sukaselam di sekitar dermaga Desa Bahodopi menemukan fakta mencengangkan: ekosistem terumbu karang di sana sedang mengalami kerusakan berat. 

Padahal, lokasi ini berada cukup jauh, sekira 10 kilometer di utara lokasi pembuangan limbah tambang nikel dan PLTU Batubara. Perairan di lokasi ini berwarna cokelat. Pada kedalaman 1-5 meter jarak pandang di bawah laut pada pagi hari mencapai 0 meter. Sedang selepas siang, jarak pandang sedikit membaik 1-2 meter. 

Kondisi buruk ini terjadi pada area terumbu rataan pada jarak 100-200 meter dari garis pantai.

Di zona yang sekarat ini, sisa-sisa kehancuran ekosistem terlihat jelas dari gundukan-gundukan karang padat seperti Porites sp. dan Goniastrea sp. yang bertahan di tengah timbunan lumpur.

Sementara itu, jenis karang bercabang dan karang lunak telah mati tertimbun sedimentasi, atau rusak karena mengalami pemutihan (bleaching).

Ruang hidup yang rusak ini membuat populasi ikan karang menyusut drastis.

Tak tampak lagi gerombolan ikan kepe-kepe, juga tak ditemukan Nemo. Yang biasa ditemukan di lingkungan terumbu karang.

(Pangkalan Ojek Ketinting Bahodopi | Foto: Sukaselam)
Runtuhnya ekosistem terumbu karang di Bahodopi akibat tambang nikel ini, kian nyata jika dibandingkan dengan data 15 tahun lampau, saat korporasi belum menjamah wilayah ini.

Tesis pascasarjana dari alumnus IPB University, Agustian Sembiring (2011), yang berjudul Distribusi Spasial Ikan Karang dan Hubungannya dengan Terumbu Karang di Pesisir Bahodopi, Teluk Tolo, Kabupaten Morowali, mendokumentasikan kejayaan di masa lalu itu.

Dalam penelitiannya pada 2011, tercatat sebanyak 2.849 individu ikan karang ditemukan di 10 lokasi titik sampling di perairan Bahodopi, baik pada area terumbu rataan maupun lereng.

Kehidupan bawah laut saat itu begitu kaya, tercatat lebih 66 spesies dari 17 famili ikan karang.

Dari belasan kelompok penghuni terumbu tersebut, ikan mayor dan ikan target—yang terdiri dari famili Pomacentridae, Acanthuridae, Labridae, dan Serranidae—menjadi kelompok paling melimpah.

Analisis struktur komunitas saat itu menyimpulkan bahwa indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan biologis di Bahodopi tergolong sangat tinggi.

Namun, seluruh kemeriahan data ilmiah itu, kini berbalik 180 derajat.

Peningkatan sedimentasi dari daratan telah menutupi sebagian besar habitat terumbu karang di Bahodopi, sehingga kini menyisakan kehancuran berat.

(Sedimentasi di Sungai Bahodopi | Foto: Sukaselam)
Dampaknya pun langsung memukul kehidupan warga yang menggantungkan nasib pada lautan.

Selain para nelayan kini kehilangan mata pencaharian karena di laut tak lagi ada ikan, juga para pemancing tradisional.

“Ikan besar sudah tidak ada, seperti kakap atau kerapu. Tapi baronang kadang masih bisa kami dapat. Yang banyak tinggal kepiting,” ujar Sitohang, seorang pemancing yang ditemui di lokasi, membenarkan lenyapnya kelompok ikan target yang dulu melimpah.

Penurunan populasi ikan target, membawa rantai panjang penurunan ikan yang lain di dalam kolom perairan. 

Menyebabkan tak ditemukan lagi ikan-ikan pelagis predator yang menjadi sasaran pemburuan nelayan tangkap. Seperti kuwe, kakap merah, kerapu besar, selar, dan tongkol.

Ketika bentik kecil di struktur karang musnah tertimbun lumpur, para predator di laut dalam pun pergi menjauh, meninggalkan pesisir Bahodopi.

Kontras di Bahomohoni

Sebagai pembanding, pemandangan kontras terlihat saat penyelaman dilakukan di situs selam Bahomohoni House Reef, yang terletak di dekat markas SDC, di Bahomohoni, Bungku Tengah. 

Di kawasan ini, ekosistem terumbu karang relatif masih bagus dan utuh.

Penyelaman di Bahomohoni pada area terumbu rataan yang berjarak 100-200 meter dari garis pantai menunjukkan kualitas air yang masih jernih.

Jarak pandang di dalam kolom air bagus, 8-10 meter pada kedalaman 5-12 meter.

(Kekeruhan di sepanjang Bahodopi | Foto: allencoralatlas)
Kondisi alamnya pun masih bersahabat; pada pagi hari saat laut surut ombak cenderung tenang, dan baru mulai membesar saat menjelang siang.

Kompleksitas terumbu karang pun masih utuh, mulai dari kelompok Acropora hingga Non-Acropora dapat ditemui, yang membentuk variasi karang padat, bercabang, serta lembaran.

Populasi ikan karang di situs ini terbilang banyak dan lengkap.

Berbagai jenis ikan mayor yang biasa dijumpai dalam penyelaman di perairan tropis tampak berseliweran, seperti kepe-kepe matahari (Chaetodon lunulatus), kepe-kepe hidung panjang (Forcipiger flavissimus), dan ikan bendera (Heniochus acuminatus).

Kelompok ikan mayor lain seperti betok (Dascyllus sp.), keling, butana, triger, kakatua, hingga moorish idol juga mudah ditemukan.

Uniknya, sama seperti di lokasi terdampak, penyelam tetap tidak menemukan keberadaan Nemo maupun rumahnya, yakni karang anemon laut, di kawasan ini.

Meski demikian, struktur terumbu karang di Bahomohoni masih menunjukkan wajah asli kekayaan bawah laut Morowali. Yang secara teoritis, laut Morowali masuk dalam Zona Arlindo dan Laut Banda yang dikenal memiliki terumbu karang subur, serta kaya akan biodiversitas ikan.

Berbagai ikan bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu, baronang, kakap merah, tenggiri, kuwe, selar, hingga lobster pun masih mudah dijumpai di sela-sela karang di Bahomohoni.

(Pemburu gurita di Bahomohoni | Foto: Sukaselam)
Melimpahnya biota laut di Bahomohoni  terbukti saat penulis menemui dua penyelam tembak (spearfishing) di lokasi ini.

Hanya dengan menyelam selama sekira satu jam, mereka sudah bisa membawa pulang tiga ekor gurita besar seberat 6 kilogram dan serenteng ikan baronang besar-besar.

Alarm dari Bio-indikator

Menurut Rahmat Naga, yang juga seorang penyelam bersertifikasi rescue dengan pengalaman bawah laut lebih dari satu dekade, keindahan yang tersisa ini tidak hanya ada di Bahomohoni. 

Kondisi kontras dengan kerusakan di Bahodopi tersebut, juga masih bisa dijumpai di pesisir Batu Manuk dan Pasir Panjang, Kecamatan Bungku Pesisir, yang terletak 10 kilometer di selatan Bahodopi.

“Di sana juga masih ada spot terumbu karang bagus, dan banyak ikan,” jelas Rahmat.

Dihubungi secara terpisah, peneliti terumbu karang yang juga dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Akbar Reza M.Sc, mengapresiasi temuan-temuan ini.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan atau hilangnya ikan-ikan karang, dapat menjadi indikator biologis yang sangat akurat, untuk menilai tingkat kerusakan lingkungan pada ekosistem pesisir.

“Ada 5 jenis ikan karang yang biasa digunakan sebagai bio-indikator. Pertama kepe-kepe, kedua butana, ketiga kakatua, keempat kerapu, dan kelima nemo,” jelas Reza. 

Menurut Reza, di antara kelima, ikan kepe-kepe yang paling sensitif sebagai indikator kerusakan terumbu karang. Karena kepe-kepe hidup dari makan polip yang menempel pada karang hidup.

(Kebutuhan ikan disuplay dari Kendari | Foto: Sukaselam)
Jika pada sebuah ekosistem terumbu karang tidak lagi ditemukan kepe-kepe, seperti yang terjadi di perairan Bahodopi, maka secara ilmiah bisa diartikan terumbu karang di sana sudah rusak berat. "Atau mungkin masih tersisa tutupan karang, tapi kurang 10 persen," kata Reza.

Berbanding terbalik dengan di Bahodopi; di Bahomohoni kawanan ikan kepe-kepe masih ditemukan, meski menurut penyelam jumlahnya tidak sebanyak beberapa tahun lalu. Lanskap terumbu karang pun terpantau masih utuh.

Sementara itu, untuk kasus tak ditemukan Nemo, Reza menjelaskan, ikan badut adalah bio-indikator terbaik untuk mengukur tingkat stres lingkungan akibat kesibukan di sekitar perairan.

Faktor pemicunya biasanya karena intensitas lalu lalang kapal yang meningkat, kebisingan suara akibat mesin kapal, hingga suhu perairan yang meningkat akibat buangan limbah industri.

Absennya Nemo di perairan Bahodopi maupun Bahomohoni akhirnya mengonfirmasi satu hal yang sangat nyata; situasi bawah laut Morowali, baik di zona industri maupun di kawasan pembandingnya, saat ini sama-sama sedang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Tragedi di bawah laut Morowali ini, menjadi potret buram dari ironi transisi energi dan hilirisasi.

Di atas kertas dan ruang-ruang rapat, angka investasi hilirisasi nikel dipuja sebagai juru selamat ekonomi bernilai ratusan triliun rupiah.

Namun, di bawah permukaan laut Teluk Tolo, investasi tersebut harus dibayar tunai dengan kepunahan lokal Nemo, degradasi ikan kepe-kepe, dan pengosongan ruang hidup nelayan.

Ketika benteng kelestarian terakhir seperti Bahomohoni mulai mengirim sinyal stres, Morowali sedang mengingatkan kita, ada harta karun ekologi bernilai mahal yang sedang menjadi korban.

(Ribuan buruh tambang berangkat kerja di Bahodopi | Foto: Sukaselam)

Tanggung Jawab Siapa

Menanggapi krisis bawah laut Morowali, Azka Syamila, peneliti biodiversitas AEER (Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat) -lembaga swadaya masyarakat independen yang aktif melakukan riset dan dokumentasi dampak industri tambang nikel di Morowali- menegaskan bahwa pemerintah dan korporasi-korporasi tambang nikel di Morowali seharusnya tidak boleh menutup mata.

Menurut dokumentasi AEER, belum ada studi basis (baseline) terumbu karang di sepanjang pesisir Morowali yang memetakan kondisi kesehatan, keanekaragaman, dan persentase tutupan karang hidup di kawasan ini sebelum aktivitas industri pertambangan nikel dibuka.

Padahal, data awal tersebut sangat diperlukan sebagai alat ukur dan instrumen kontrol, atas laju kerusakan bawah laut akibat aktivitas tambang. Ketiadaan basis data membuat laju industri tambang di Morowali seperti bergerak tanpa arah, hingga kemudian melindas karang.

Di dalam dokumen rencana kerja perusahaan-perusahaan tambang, data vital tersebut juga tidak tercantum. “Yang ada hanya setiap perusahaan membuat semacam surat pernyataan bahwa mereka mempunyai kepedulian dan memperhatikan lingkungan sekitar,” jelas Azka.

(Warga dan kompleks pabrik di Kurisi, Bahodopi | Foto: Sukaselam )

Riset AEER pada 2022 tentang kualitas air laut di sepanjang perairan Kecamatan Bahodopi juga menemukan bahwa parameter kekeruhan serta kandungan logam berat seperti nikel (Ni) dan besi (Fe) telah melampaui batas baku mutu yang ditetapkan pemerintah. Hasil riset serupa juga ditemukan oleh tim peneliti Jurusan Biologi, FMIPA, Unhas, seperti yang dimuat di jurnal Bioma.

Demikian juga ditemukan adanya kandungan Kromium Heksavalen (Cr6+), Sulfur Dioksida (SO2), dan Asam Sulfat yang melebihi batas baku mutu lingkungan pada perairan umum dan biota laut.

Menurut Azka, tingginya kandungan polutan zat kimia dan unsur logam berat ini berbanding lurus dengan kiamat karang yang sedang terjadi Bahodopi.

Hilangnya jenis ikan indikator sensitif seperti nemo dan kepe-kepe merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa pengawasan lingkungan di kawasan lingkar tambang telah gagal.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Morowali, Nukrah S.T., M.Si., sudah dihubungi melalui panggilan telepon dan pesan whatsapp untuk konfirmasi mengenai hal ini, namun hingga laporan ini diturunkan dia masih belum memberikan jawaban dan respon balasan.

Azka menambahkan, jika pembabatan hutan di perbukitan darat serta aktivitas pembuangan material sedimen dan limbah industri pengolahan nikel ke perairan pesisir, terus dibiarkan berlangsung tanpa pengawasan dan sanksi tegas, sisa harta karun bawah laut di Bungku Tengah dan Bungku Pesisir, lambat laun juga akan bernasib sama dengan kiamat karang di Bahodopi.

“Dan hanya perlu waktu 13 tahun untuk kehancuran terumbu karang di Bahodopi. Padahal, perlu waktu ratusan tahun untuk terbangunnya ekosistem terumbu karang itu,” ujar Azka. ***

 Wahyuana

*Laporan ini merupakan bagian dari program liputan Pasopati Journalist Fellowship 2026 dari AURIGA Nusantara