Rabu, 22 Juli 2026

Riset BRIN: Restorasi Karang tak Menjamin Pulihnya Ekosistem Alami

(Restorasi terumbu karang oleh KKTK Yowana Bhakti Segara di Tianyar, Bali | Foto: Istimewa)


Jakarta, 22 Juli 2026
– Aktivitas restorasi dan rehabilitasi terumbu karang banyak dilakukan di Indonesia. Hampir tiap pekan kita menemukan rilis berita dari organisasi atau komunitas yang melakukan kegiatan ini di seluruh negeri.

Publikasi riset dari peneliti IPB University pada 2022, bahkan menyebut Indonesia pusat restorasi terumbu karang terbanyak di dunia. Lebih 533 situs.

Namun ternyata, menurut peneliti BRIN, efektivitas upaya rehabilitasi terumbu karang dalam mengembalikan fungsi ekosistem dan kehidupan bawah laut masih kontroversi bagi para ahli.

Dikutip dari berita Humas BRIN yang dipublikasikan di BRIN.go.id, Rabu (22 Juli 2022), kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Albert Sulaiman mengatakan, masih dibutuhkan penelitian jangka panjang untuk bisa menghasilkan rekomendasi ilmiah yang tepat, yang dapat menjadi basis ilmiah untuk mendukung pengelolaan ekosistem yang punya ketahanan iklim.

“Dibutuhkan penelitian jangka panjang untuk menghasilkan rekomendasi yang tepat,” ujarnya.

Dalam diskusi mengenai restorasi terumbu karang dan ketahanan iklim di Kantor Pusat Riset Terpadu BRIN, di Bandung hari ini, peneliti kelautan PRIMA BRIN, Zach Boakes, memaparkan hasil penelitiannya yang telah dipublikasikan di jurnal Marine Biology pada Oktober 2025.

Dalam penelitian Zach dan kawan-kawan di Teluk Tianyar, Kubu, Bali, selama lima tahun, antara 2020-2024, tim peneliti melakukan pengamatan bawah laut pada tiga tipe habitat. Yaitu habitat terumbu karang alami, habitat terumbu karang buatan, dan habitat terumbu karang rusak.

Dalam pengamatan pada komunitas ikan di 3 habitat tersebut, dengan menggunakan metode Remote Underwater Video (RMV), atau merekam dengan kamera bawah laut dan kemudian diamati, tim peneliti menemukan bahwa komunitas ikan karang seperti pada habitat terumbu karang alami, sudah hadir di habitat terumbu karang buatan setelah satu sampai tiga tahun penenggelaman struktur terumbu buatan. Dibanding habitat terumbu karang rusak, kehadiran terumbu buatan mampu meningkatkan keanekaragaman ikan karang secara signifikan.

Namun, hasil pemantauan hingga tahun kelima selanjutnya, menunjukkan bahwa proses pemulihan ekosistem tidak berlangsung secara linear.

Meskipun jumlah dan keanekaragaman ikan karang pada habitat terumbu karang buatan meningkat dibandingkan di habitat terumbu karang rusak, komposisi komunitas ikan karang di habitat terumbu karang buatan ternyata berbeda dengan di habitat terumbu karang alami.

Pada habitat terumbu karang buatan cenderung dihuni lebih banyak ikan predator, sedangkan pada habitat terumbu karang alami lebih didominasi ikan pemakan plankton dan ikan herbivora yang memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang.

Menurut tim peneliti, perubahan komunitas ikan juga dipengaruhi berbagai faktor lingkungan, seperti cuaca, proses perekrutan ikan muda, interaksi predator dan mangsa, hingga aktivitas penangkapan ikan.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa perkembangan ekosistem yang dihasilkan dari restorasi terumbu karang, merupakan proses yang dinamis dan tidak dapat dinilai hanya dari hasil pengamatan dalam waktu yang singkat saja (satu sampai tiga tahun).

Pelajaran utama penelitian ini adalah pentingnya pemantauan dalam jangka panjang pada proyek restorasi terumbu karang. Tim peneliti menunjukkan bahwa apabila pengamatan hanya dilakukan selama tiga tahun, kesimpulan yang diperoleh dapat berbeda dibandingkan ketika pemantauan dilanjutkan hingga lima tahun.

Oleh karena itu, evaluasi restorasi terumbu karang memerlukan data jangka panjang agar efektivitas hasilnya dapat dinilai secara lebih akurat. ***

Penulis: Wahyuana
Editor: Tim Redaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar