Rabu, 16 September 2026

Diving di Morowali: dari Sombori hingga Bahomohoni

(Sekretariat Sombori Dive Conservation (SDC) di Bahomohoni | Foto: Sukaselam/Wahyuana}

Morowali, 16 September 2026
– Di tengah bentangan laut Bahodopi yang kini berwarna cokelat kemerahan akibat terkena sedimentasi dari penambangan nikel di hulu, muncul pertanyaan besar, apakah diving di Morowali masih menarik?

Jawabannya adalah menarik jika tak salah alamat.

“Kalau ada tamu biasanya kami bawa ke Sombori kalau dia punya waktu yang cukup, setidaknya tiga hari. Kalau mau yang dekat dan cepat, bisa diving di Bahomohoni House Reef itu di depan sekretariat SDC di Bungku,” ujar Rahmat Naga, penggiat SDC (Sombori Dive Conservation).

Menurut Rahmat, meskipun Morowali bukan merupakan destinasi wisata selam populer yang terkenal di Sulawesi Tengah, seperti Togean, Banggai, Luwuk, dan Donggala, namun wisatawan selam selalu ada. “Biasanya bukan wisatawan khusus diving. Tapi tamu yang sedang ada bisnis di Morowali, terus ingin diving di sela waktu bisnisnya,” ujar Rahmat, penyelam bersertifikat.

Perairan Bahodopi, menurut Rahmat, sejak dulu memang bukan destinasi untuk wisata selam. Hal itu bukan karena terumbu karangnya jelek, melainkan belum terpetakan saja titik-titik yang menarik untuk diselami. “Disamping memang belum ada operator wisata selam di sini,” ujarnya.

Terletak di jantung Zona Arlindo dan berada di atas Teluk Tolo dengan kedalaman rata-rata lebih 2.000 meter, perairan Morowali memiliki karakter oseanografi yang mendukung keberadaan ekosistem terumbu karang subur. Jika dibandingkan Kepulauan Seribu dan Karimun Jawa yang terletak di atas laut dengan kedalaman rata-rata 200 meter, terumbu karang di sini lebih baik.

Dari pengalaman penyelaman di Bahomohoni misalnya, tutupan terumbu karang di sini subur dan sehat. Situs Bahomohoni House Reef terletak 30 meter dari sekretariat SDC. Titik masuk penyelaman ini bisa ditempuh langsung dari pantai berpasir putih yang dikelilingi nyiur kelapa.

Anak-anak pelajar di Bungku Tengah, ibu kota Kabupaten Morowali, suka menggunakan pantai Bahomohoni House Reef ini sebagai tempat bermain mereka, sehingga lokasi ini ramai dengan berbagai kegiatan sosial kelautan seperti berenang, snorkeling, freediving, hingga scuba diving.

Situs ini berupa terumbu rataan luas dengan kedalaman 3-20 meter hingga radius 200 meter ke depan, selanjutnya formasi terumbu berupa terumbu tebing menjulang di atas Teluk Tolo. Jarak pandang di bawah laut di sini tergolong bagus, 8-10 meter.  Arus di perairan ini sering tidak menentu antara 0-1 knot, namun saat lepas tengah hari, ombak sering kali menjadi besar.

Hamparan terumbu karang di Bahomohoni House Reef didominasi karang bercabang Acropora spp., karang lembaran Montipora foliosa, berbagai gundukan karang padat, karang lunak, lili laut, serta alga hijau. Terumbu ini dihuni berbagai biota laut, termasuk ikan terumbu karang seperti betok, kepe-kepe, ekor kuning, kerapu, selar, kuwe, kakap, keling, anthias, dan ikan butana, serta lobster dan gurita.

Di sini juga terdapat 10 struktur terumbu buatan berbentuk rak besi yang telah disulam fragmen karang Acropora pada kedalaman 3-5 meter.

“Itu hasil penenggelaman 2018, dan sebagian juga rak-rak baru dari tahun ini,” ujar Rahmat Naga. Meskipun belum lama terpasang, rak-rak terumbu karang transplantasi tersebut, kini sudah dikerubuti oleh banyak ikan terumbu karang.

(Titik selam di Bahomohoni | Ilustrasi: Sukaselam)
Selain di Bahomohoni, diving di Morowali juga bisa dilakukan di Kepulauan Sombori yang juga berstatus Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Sombori. 

Perlu 4-5 jam naik perahu cepat dari Bahomohoni untuk mencapai dermaga Pulau Sombori. Ini destinasi selam populer di Morowali.

Di dalam kawasan ini sudah terdapat resor dan penginapan, namun belum ada operator selam.

Kepulauan Sombori berada tidak jauh dari konsesi pertambangan nikel. Salah satunya berada di Desa Matarape, Kabupaten Morowali, sementara di dekatnya aktivitas pertambangan nikel juga berlangsung di wilayah Kabupaten Konawe Utara. Jarak beberapa area konsesi pertambangan tersebut dengan Kepulauan Sombori sekitar 5–8 kilometer.

Kawasan ini berstatus kawasan konservasi, sehingga terumbu karang di Kepulauan Sombori sebagian besar menarik diselami.

Tercatat ada enam situs selam yang sudah populer dikunjungi para penyelam di Kepulauan Sombori. Situs-situs selam itu berupa situs selam terumbu karang subur, dan sebuah spot kima.

(Titik selam di Kepulauan Sombori | Ilustrasi: Sukaselam)
“Hampir tiap akhir pekan kami melakukan trip ke Sombori, karena di sana kami punya beberapa lokasi terumbu karang transplantasi yang harus dimonitor dan dibersihkan,” ujar Rahmat Naga.

Tahun 2022, SDC mendapat penghargaan Kalpataru dari pemerintah pusat atas kinerjanya dalam konservasi di Kepulauan Sombori ini. Kalpataru adalah penghargaan lingkungan tertinggi di Indonesia. Penghargaan itu, menurut Rahmat, karena proyek transplantasi terumbu karang SDC di Kepulauan Sombori dinilai berdampak positif dan meningkatkan nilai ekonomi setempat.

“Kami juga tidak menyangka mendapat penghargaan Kalpataru. Tiba-tiba diundang ke Jakarta untuk menghadiri seremoni penyerahannya. Ternyata, sebelumnya sudah ada tim asesmen yang ke Sombori melihat proyeknya, dan dinilai berdampak baik ke ekonomi setempat,” ujar Rahmat.

(Dive site Kepulauan Menui | Ilustrasi: Sukaselam)
Kepulauan Menui
Kepulauan Menui adalah destinasi selam hidden paradise dari Morowali yang sesungguhnya. Letaknya yang di batas wilayah terluar, membutuhkan waktu 6-8 jam naik perahu cepat untuk mencapai dermaga Menui dari dermaga Bahomohoni. Belum banyak penyelam mengunjungi lokasi ini, dan memang belum tersedia infrastruktur wisata selam di sini. “Alat harus membawa sendiri,” ujar Rahmat. Hanya trip-trip kapal pesiar selam yang sering mengunjungi destinasi ini.

Meski wilayah ini  berada di wilayah KKP Sombori, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Morowali Nomor 188.45/SK.0283/DKP/2013 dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KKP) Nomor 52/KEPMEN-KP/2019, namun karena letaknya yang jauh masih jarang penyelam berkunjung. Padahal, terumbu karang di sini bagus dan belum banyak dieksplorasi.

Ancaman Nyata di KKP Raja Gunung
Selain Bahomohoni dan KKP Sombori (termasuk di dalamnya Kepulauan Menui), masih ada satu lagi kawasan konservasi di Morowali yang dijaga ketat dari ekspansi pertambangan nikel, yaitu Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Raja Gunung yang terletak di Kecamatan Bungku Selatan.

Status KKP Raja Gunung dibentuk berdasar SK Bupati Morowali Nomor 188.45/SK.0283/DKP/2013.

Kawasan ini meliputi pulau-pulau kecil di dalam wilayah Desa Bungingtende, Desa Sainoa, Desa Boelimau, Desa Panimbawang, dan Desa Umbele Lama. 

Terletak tepat di depan area konsesi pertambangan nikel milik PT Bumi Morowali Utama (APL Group) yang berlokasi di Desa Laroenai, yang hanya berjarak selat selebar beberapa kilometer. 

Dampak sedimentasi tambang nikel yang menyebar ke perairan dalam juga terasa di KKP Raja Gunung. Banyak terumbu karang di kawasan ini mengalami kerusakan.

Survey terumbu karang yang diadakan oleh para peneliti dari Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPP) Palu, Sulawesi Tengah, Alfiani Eliata Sallata dkk., berjudul Kondisi Terumbu Karang di Kawasan Konservasi Perairan Morowali (2022), menemukan kondisi terumbu karang di KKP Raja Gunung dalam kategori rusak. Persentase tutupan karang hidup hanya 23,27 persen.

Garda Terdepan
Di tengah terbatasnya operator selam di Morowali, Sombori Dive Conservation (SDC) menjadi salah satu kelompok yang aktif melakukan pemantauan dan rehabilitasi terumbu karang.

Berdiri sejak 15 September 2015, menurut Rahmat Naga, kini SDC beranggotakan 18 penyelam bersertifikat. 

“Dulu namanya Sombori Diving Club. Komunitas para penyelam hobby yang pada saat awal terbentuknya itu, setelah kami dipertemukan dalam kegiatan festival budaya laut di Morowali. Makanya namanya klub. Belakangan ini, kita malah aktif di transplantasi terumbu karang,” ujar Rahmat.

Menurut Rahmat kini SDC sering dimintai tolong oleh perusahaan-perusahaan tambang nikel di Morowali, untuk menjalankan berbagai proyek monitoring laut dan konservasi terumbu karang.

Berbagai proyek transplantasi terumbu karang telah dijalankan oleh kelompok ini, terutama di kawasan Kepulauan Sombori. Hampir semuanya menggunakan teknik penenggelaman struktur rak besi dan kemudian disulam dengan fragmen-fragmen karang cangkok jenis Acropora. Dari berbagai upaya di bidang konservasi itu, telah mendapatkan penghargaan Kalpataru di 2022.

Menempati kantor sekretariat di sebuah rumah kecil di pinggir Pantai Bahomohoni, Kelurahan Bahomohoni, Bungku Tengah, di kantor SDC ini tersedia berbagai peralatan selam. 

Dari tabung selam hingga kapal pesiar yang siap mengantar tamu menyelami bawah laut Morowali.

Penulis: Wahyuana
Editor: Tim Redaksi

*Laporan ini merupakan bagian dari program liputan Pasopati Journalist Fellowship 2026 dari AURIGA Nusantara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar