![]() |
| (Gunung Karangetang, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: BPBD Sitaro) |
Serang, SUKASELAM.COM – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kecamatan
Rajabasa, Lampung Selatan, Lampung, dilaporkan kembali aktif mengeluarkan
semburan lava panas (erupsi), pada Minggu 12 Juli 2026 siang.
Laporan dari pos
pengamatan Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di Pasauran, Serang, Banten, mengatakan sejak 2
Juli hingga 11 Juli 2026 (Sabtu pekan lalu), tercatat gunung api di tengah laut
ini telah mengalami letusan hingga 18 kali.
“Untuk hari ini (Minggu siang (12/6)) belum ada letusan. Namun sejak
tanggal 2 Juli hingga kemarin tercatat ada 18 letusan,” ujar Rio Bonik
Situmorang, petugas PVBG di Pasauran, seperti dikutip dari RRI Online.
Menurut Rio, letusan Gunung Anak Krakatau bersifat fluktuatif. Tingkat
kegempaan kadang meningkat tajam pada saat tertentu, kemudian menurun lagi, dan
meningkat lagi saat lain.
Meningkatnya kegempaan dan erupsi sejak awal bulan ini, membuat PVMBG kini
menaikkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Siaga (level III).
Naik dari biasanya berstatus Waspada (level II).
Tidak ada tanda-tanda akan terjadi tsunami, seperti yang pernah terjadi pada
letusan besar pada Desember 2018 lalu, yang menelan lebih 400 korban jiwa.
Kini, fenomena erupsi hanya berupa letusan-letusan kecil saja, material
letusan hanya turun sampai pada sekitar puncak kubah kawah, tidak sampai turun
ke perairan sekitar.
Gunung Karangetang
Dalam waktu hampir bersama, Gunung Karangetang, di Pulau Siau, Sitaro, Sulawesi
Utara, juga dilaporkan kembali aktif, pada Senin 13 Juli 2026.
Dikutip dari Kompas.com, petugas Pos Pemantau Gunung Karangetang PVMBG, di
Pulau Siau, melaporkan, Gunung Karangetang kembali meletus pada Minggu malam,
pukul 19.13 WITA.
“Masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai-sungai yang berhulu pada Gunung Karangetang
agar meningkatkan kesiapsiagaannya dari kemungkinan terjadi lahar turun akibat
hujan dan banjir bandang,” ujar petugas pos pemantauan Gunung Karangetang, Vieko
Kristianse Rompas, (13/6).
Menurut
Vieko, erupsi Gunung Karangetang pada Minggu
malam, terekam di alat seismogram berlangsung dengan amplitudo maksimum 50 mm,
dengan durasi lebih kurang 2 menit 33 detik.
Akibat letusan ini, kata Vieko, terjadi lontaran lava pijar hingga 100
meter di atas puncak kawah bagian utara, dengan jarak turun lontaran lava ke arah
selatan dan barat daya hingga radius 300 meter dari puncak kawah. Lontaran lava
tak sampai menyentuh bibir pantai dan turun ke laut.
Situs Selam
Sama seperti di darat, letusan gunung berapi dalam jangka panjang menyuburkan
kehidupan sekitar.
Jika di darat letusan gunung berapi dalam jangka panjang menyuburkan
vegetasi sekitar, demikian juga di laut letusan gunung berapi dalam jangka
panjang menyuburkan terumbu karang tepi sekitar.
Riset dari sejumlah peneliti menemukan, terumbu karang rusak total secara langsung
akibat tertimpa lahar dan lava erupsi pada saat letusan gunung berapi laut
terjadi.
Namun, setelah beberapa lama, lava dan lahar yang jatuh ke pinggir pantai,
kemudian akan berefek positif pada mensuplai nutrisi untuk pertumbuhan karang,
sehingga terumbu karang disekitar gunung berapi laut menjadi subur kembali.
Demikian juga di Gunung Anak Krakatau dan Gunung Karangetang.
Di Gunung Anak Krakatau, dari letusan besar pada Desember 2018 lalu,
menyebabkan munculnya situs selam baru yakni Lava Flow Anak Krakatau dan menyuburkan
situs selam lama Karang Serang Rock dan Legon Cabe.
Sedang Gunung Karangetang terkenal dikelilingi situs-situs selam populer
seperti Lava Flow Kiawang, Batu Kapal, Lava Flow Karangetang, dan Lava Flow Apelawo.
***
Penulis: Wahyuana
Editor : Tim Redaksi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar