Labuan Bajo, 21 Agustus 2026 – Dikutip dari posting video pada akun instagram @tarsisabat @indoaura.id dan @stefanafro. Ketiga-nya merupakan penyelam profesional di Labuan Bajo.
Gempa Magnitudo
7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026,
pukul 05.58 WITA pekan lalu, ternyata tidak hanya berdampak pada lingkungan daratan saja,
tetapi juga berdampak pada terumbu di bawah laut.
Dalam video
berdurasi 40 detik itu, terlihat gempa bumi tektonik telah menyebabkan kerusakan
parah pada situs selam Police Corner di kawasan Taman Nasional Komodo.
Terumbu karang
di Police Corner kini tampak membelah sepanjang kurang lebih 40 meter,
dan lebar lebih 1 meter. Bagaikan dasar laut membelah setelah terkena tongkat Nabi
Musa.
Situs Police
Corner terletak di Selat Lintah yang merupakan spot utama pariwisata selam TN Komodo, yang
dikenal berarus kuat dan selalu ramai dikunjungi penyelam sepanjang tahun.
Situs selam ini tepatnya terletak di ujung selatan Pulau Siaba Besar. Berupa situs terumbu karang tepi subur yang dihuni banyak pelagis dan ikan karang dengan visibility bagus. Kedalaman 18-35 meter.
Terumbu yang
membelah akibat gempa terletak di kedalaman 22 meter. Dengan visibility sekitar
masih tetap bagus.
The Crack
Peristiwa ini, mengingatkan
kita pada situs selam The Crack, di Maumere.
The Crack di Teluk Maumere, terbentuk juga akibat
gempa dan tsunami besar yang melanda Maumere dan seluruh Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 1992.
Gempa dan tsunami yang mengakibatkan lebih 2.500 orang meninggal, dan traumanya juga masih terasa bagi sebagian besar masyarakat Kota Maumere dan Kabupaten Sikka hingga sekarang.
Situs The Crack berupa retakan vertikal pada terumbu tebing di bagian barat Pulau Babi.
Retakan sepanjang kurang lebih 20 meter, dari kedalaman 18 meter hingga 30 meter. Lebar retakan 50-80 sentimeter. Sehingga membentuk seperti sebuah lubang gua vertikal.
Situs selam ini sangat populer bagi penyelaman rekreasi di Maumere. Karena dihuni terumbu karang subur
dan dihuni banyak ikan karang dan pelagis. Lubang retakan itu kini telah rimbun dipenuhi kipas
laut, lili laut, dan anemon laut. Menawarkan panorama bawah laut yang indah
dan dihuni banyak ikan.
Yang
menarik dari kedua situs selam ini.
Retakan The
Crack terbentuk 35 kilometer dari episentrum gempa Maumere 1992. Sehingga terasa logis kalau gempa berkekuatan Magnitudo 7,5-7,8 itu menyebabkan kehancuran dan keretakan pada
dinding-dinding terumbu karang tebing di sekitar.
Sedang retakan di Police Corner terletak hampir 200 kilometer dari pusat gempa 2026.
Episentrum gempa 15 Agustus 2026 yang berkekuatan sama, Magnitudo 7,7, terletak
di sebelah barat Pulau Palue, di Kabupaten Nagekeo. Atau 40
kilometer di sebelah barat episentrum gempa 1992. Sedang situs Police
Corner terletak di Taman Nasional Komodo yang berjarak sangat jauh.
Selain itu, The Crack dan episentrum gempa 1992 sama-sama terletak di Laut Flores. Sedang Police Corner terletak di Laut Sawu, dan episentrum gempa 2026 terletak di Laut Flores.
Pemulihan
Kal Muller, penyelam
dan penulis buku Diving Indonesia (1999), dalam refleksinya di dalam buku tersebut menunjukkan
kekagumannya pada situs The Crack. Karena hanya dalam tempo singkat, kurang
lebih 6 tahun, The Crack yang semula berupa reruntuhan terumbu karang rusak
akibat gempa bumi, sudah bisa pulih kembali menjadi situs terumbu karang subur yang
dipenuhi kipas laut dan lili laut.
Bahkan menjadi situs
selam baru yang lebih menarik dan populer.
Banyak situs
selam di Maumere rusak akibat gempa 1992, dan sekira 5 tahun kemudian telah kembali
pulih menjadi situs selam baru. Semoga begitu juga dengan Police Corner. ***
Editor: Tim Redaksi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar